Kamis, 08 Desember 2011

Allah Yang Slalu Ada

ketika kita sedang bersedih
Allah datang dengan membawa kebahagiaan

ketika kita kesepian karna semua teman sibuk dengan urusannya
Allah hadir sebagai teman kehampaan

ketika kita sedang berputus asa dengan hasil usaha kita
Allah tak pernah berhenti dalm memberikan semangat berupa Rahmat-Nya

ketika kita merasa lelah dalam pekerjaan kita
Allah lah tempat peristirahatan dalam shalat kita

ketika kita menangiskarna bencana yang menimpa kita
Allah lah yang menghapus dosa2 dengan tetes air mata kita

ketika kita melihat jalan kebahagiaan
Allah sedang berbisik kepada kita

ketika kita tak berdaya dihadapan manusia
Allah datang sebagai pelidung kita

Allah tak pernah alfa dalm mengawasi kita
tapi kitalah yang selalu menghindar dari-Nya

Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita
tapi kita tak mengerti ucapan rasa syukur dan terimakasih

Allah selalu melindungi dan menyayangi kita
tapi kita selalu menyalahi-Nya

Allah mencintai kita melebihi cinta seorang ayah kepada anaknya
tapi kita selalu menduakan cinta-Nya

Allah memiliki banyak orang seperti kita tapi Dia menyayangi kita seolah hanya memiliki kita seorang
tapi,kita tidak memiliki tuhan seperti Dia dan seakan akan kita memiliki banyak tuhan untuk dicintai..

akankah kita akan terus seperti ini??
akankah kita masih memiliki rasa malu terhadap-Nya??

Ikhwan Indonesia VS Mujahid Palestina

ketika api menyulutkan jiwa yang lemah
maka jiwa itu akan hancur bagaikan debu
ketika api menyulutkan jiwa yang kuat,
maka jiwa itu akan menjadi semakin tangguh bagaikan intan permata

ketika seorang ikhwan sibuk dengan menghafal surah Arrahman sebagai persiapan ajang mengkhitbah seorang akhwat
ketika itu disana para mujahid sibuk dengan menghafal surah Alanfal untuk mempersiapkan pernikahannya dengan bidadari syurga

ketika para ikhwan sibuk dalam pencarian dan pengharapan tulang rusuk dalam doanya
ketika itu disana para mujahid sibuk dalam pencarian musuh-musuhnya

ketika para ikhwan sibuk menjelaskan makna jihad
ketika itu disana para mujahid sibuk bertanya-tanya kapan dirinya sebagai syuhadaNya

ketika para ikhwan dan akhwat sibuk dalam pencarian dan penantian yang panjang
ketika itu disana para mujahid dan mujahidah sibuk mendaftarkan dirinya sebagai bom syahid

ketika ikhwan dan akhwat sibuk membicarakan mahar pernikahannya
ketika itu disana para mujahid dan mujahidah menjadikan senjata dan pedangnya sebagai mahar syurganya

ketika para ikhwan dan akhwat selalu mengumandangkan hadist
"nikah itu adalah sunahku" dalam guyonannya
ketika itu disana para mujahid dan mujahidah selalu mengumandangkan hadist
"hidup mulia atau mati sebagai syuhada" dalam langkahnya

engkau lihat ketika dunia melihat senyuman kematian harumnya darah  para syuhada,,dunia bergetar karna kekaguman dan kebenaran akan janjinya
tapi engkau lihat ketika dunia melihat kematian org2 musyik yang terkena musibah mereka hanya bisa menangis,menangis karna mereka semua telah mendapatkan azab dunia dan akhirat

"mereka hanya mengetahui yang lahir(tampak) dari kehidupan dunia,sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka lalai"

ketika para ikhwan membicarakan tentang keindahan syurga
sedangkan para mujahid sana telah mendapatkan tempat tinggalnya disana

ketika ikhwan dan akhwat ingin membantu palestina
tapi realitas mengatakan siapa sebenarnya yang harus dibantu??
negri kecil yang penuh dengan mujahid dan mujahid yang pemberani
ataukah negri besar yang penuh dengan orang-orang yang kerdil dan pengecut

dan kita mengatakan bahwa palestina adalah negri yang kecil dan miskin??
dan mereka mengatakan indonesia adalah negri yang kaya dan besar??
namun palestina adalah negri yang kaya akan iman dan keridhoan Allah
dan indonesia adalah negri yang miskin iman dan keridhaan-Nya

"sekiranya penduduk negri itu beriman niscata kami turunkan keberkahan dari langit dan bumi"

Komentar Musuh Islam Terhadap Karater Mujahid

Ketika Heraklius (Kaisar Romawi) akan berangkat ke Konstantinopel,
tiba-tiba ia disusul seorang laki-laki Romawi yang pernah ditawan pasukan Islam.
“Ceritakan kepada tentang orang-orang Islam!” pinta Heraklius.
“Aku akan menceritakan mereka untuk Anda seolah-olah Anda melihatnya sendiri,” jawab lelaki itu.
“Mereka adalah prajurit berkuda di siang hari dan rahib dimalam hari.
Mereka tidak makan dari orang-orang kafir dzimmi kecuali dengan harga (membelinya).
Mereka tidak masuk rumah kecuali dengan salam. Mereka akan melawan orang yang menyerang mereka hingga mereka berhasil mengalahkannya!”
“Jika kamu berkata benar kepadak, ” ujar Heraklius, “maka mereka benar-benar akan menguasai yang diinjak oleh kedua kakiku ini!”

(Kisah ini disebutkan Syaikh Muhammad Yususf al Kandahlawi dalam Hayah ash-Shahabah, III / 697-698 yang dia nukil dari Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tarikhnya)


Yazdajir (Raja Persia) mengirim surat kepada
Raja China untuk meminta bantuan

Raja China itu berkata kepada utusan Yazdajir,
“Aku tahu bahwa Raja harus menolong Raja lainnya untuk melawan orang-orang yang mengalahkannya.
Ceritakanlah kepadaku ciri-ciri orang-orang yang telah mengusir kalin dari negeri kalian.
Aku telah mendengar kalian mengatakan bahwa jumlah mereka sedikit sedangkan jumlah kalian banyak.
Dan orang-orang yang sedikit itu tentu tidak akan mampu mengalahkan kalian yang banyak kecuali karena kebaikan yang mereka miliki dan keburukan yang kalian punyai.
 Utusan itu mengatakan, “Tanyalah apa yang ingin anda tanyakan.”
Raja China bertanya, “Apakah mereka menepati janji?”
Utusan Yazdajir menjawab, “Ya.”
“Apa yang mereka katakan kepada kalian sebelum mereka memerangi kalian?”
“Mereka menyeru kami kepada salah satu dari tiga hal : masuk agama mereka (jika mengiyakannya mereka memberlakukan kami seperti mereka), membayar Jizyah, atau perang .”
“Bagaimana kepatuhan mereka kepada para pemimpinnya?”
“Mereka adalah kelompok prajurit yang paling patuh pada pemimpin mereka.” Kemudian raja China itu menulis surat kepada Yazdajir,
“Aku tidak mengirimkan pasukan kepadamu, karena utusanmu telah menceritakan ciri-ciri orang-orang yang mengalahkan kalian kepadaku, kalau mereka menginginkan merobohkan gunung, pasti mereka akan berhasil. Dan kalau mereka datang ketempatku pasti mereka akan berhasil melengserkanku, selama mereka masih tetap seperti apa yang diucapkan oleh utusanmu. Berdamailah dengan mereka, bayarlah upeti kepada mereka, dan jangan ganggu mereka selagi mereka tidak mengganggumu!

(Kisah ini disebutkan Syaikh Muhammad Yususf al Kandahlawi dalam Hayah ash-Shahabah, III / 697-698 yang dia nukil dari Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tarikhnya)

Jalan Cinta Seorang Pejuang

Tulisan ini diambil dari salah satu bagian di dalam buku karangan Salim Akhukum Fillah, Sang Mujahid Pena asal Yogyakarta, sahabat dekat Mahasiswa Berprestasi UI (2006) & Nasional Shofwan Al-Banna Choiruzzadd.

Bagi saya, kisah ini ibarat air hujan di tengah musim kemarau yang menghidupkan kembali benih-benih kesungguhan untuk mempersembahkan cinta yang suci bagi calon bidadari yang akan menjadi pendampingku nanti. Ya, seperti cintanya Ali kepada Fatimah yang dikisahkan dengan sangat indah oleh Salim A. Fillah ini…
Berikut kisahnya…
kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah,
maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNya,
pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki:
selamanya memberi yang bisa kita berikan,
selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.
-M. Anis Matta-

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Ia tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan.

Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan;
Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu. ”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi?

Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi.
Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya...

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr: ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..

Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud..

Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan. Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak.

Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya?
Siapayang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin?

Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi,dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”

’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan. Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi...”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!” ’Ali pun menghadap Sang Nabi.

Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya dibatas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untukmenjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!” Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, danFathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”
Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.

Di jalan cinta para pejuang,
kita belajar untuk bertanggungjawab atas setiap perasaan kita... Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan...
Bahwa suatu hari (setelah mereka menikah)...
Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu.”
Kisah ini disampaikan disini, bukan untuk membuat kita menjadi mendayu-dayu atau romantis-romantis-an...

Kisah ini disampaikan agar kita bisa belajar lebih jauh dari ‘Ali dan Fathimah bahwa ternyata keduanya telah memiliki perasaan yang sama semenjak mereka belum menikah tetapi dengan rapat keduanya menjaga perasaan itu.


Perasaan yang insyaAllah akan indah ketika waktunya tiba...

Senin, 28 November 2011

Surat Untuk Calon Istriku

Assalammu’alaikum Wr. Wb….
Apa kabar calon istriku? Hope u well and do take care… Allah selalu bersama kita.
Calon Istriku…
Masihkah menungguku.. .? Hm… menunggu, menanti atau whateverlah yang sejenis dengan itu kata orang membosankan. Benarkah?! Menunggu… hanya sedikit orang yang menganggapnya sebagai hal yang ‘istimewa’. Dan bagiku, menunggu adalah hal istimewa. Karena banyak manfaat yang bisa dikerjakan dan yang diperoleh dari menunggu. Membaca, menulis, diskusi ringan, atau hal lain yang bermanfaat.
Menunggu bisa juga dimanfaatkan untuk mengagungkan- Nya, melihat fenomena kehidupan di sekitar tempat menunggu, atau sekadar merenungi kembali hal yang telah terlewati. Eits, bukan berarti melamun sampai angong alias ngayal dengan pikiran kosong. Karena itu justru berbahaya, bisa mengundang makhluk dari ‘dunia lain’ masuk ke jiwa.
Banyak hal lain yang bisa kau lakukan saat menunggu. Percayalah bahwa tak selamanya sendiri itu perih.
Bahwa di masa penantian, kita sebenarnya bisa lebih produktif. Mumpung waktu kita masih banyak luang. Belum tersita dengan kehidupan rumah tangga. Jadi waktu kita untuk mencerahkan ummat lebih banyak. Karena permasalahan ummat saat ini pun makin banyak.
Karenanya wahai bidadari dunia…
Maklumilah bila sampai saat ini aku belum datang. Bukan ku tak ingin, bukan ku tak mau, bukan ku menunda. Tapi persoalan yang mendera bangsa ini kian banyak dan kian rumit. Begitu banyak anak tak berdosa yang harus menderita karena busung lapar, kurang gizi, lumpuh layuh hingga muntaber. Belum lagi satu per satu kasus korupsi tingkat tinggi yang membuktikan bahwa negeri ini ‘sarang tikus’.
Ditambah lagi bencana demi bencana yang melanda negeri ini. Meski saat ini hidup untuk diri sendiri pun rasanya masih sulit. Namun seperti seorang ustadz pernah mengatakan bahwa hidup untuk orang lain adalah sebuah kemuliaan. Memberi di saat kita sedang sangat kesusahan adalah pemberian terbaik. Bahwa kita belumlah hidup jika kita hanya hidup untuk diri sendiri.
Calon Istriku…
Percayalah padaku aku pun rindu akan hadirmu. Aku akan datang, tapi mungkin tidak sekarang. Karena jalan ini masih panjang. Banyak hal yang menghadang. Hatiku pun melagu dalam nada angan. Seolah sedetik tiada tersisakan. Resah hati tak mampu kuhindarkan. Tentang sekelebat bayang, tentang sepenggal masa depan. Karang asaku tiada ‘ kan terkikis dari panjang jalan perjuangan hanya karena sebuah kegelisahan. Lebih baik mempersiapkan diri sebelum mengambil keputusan. Keputusan besar untuk datang kepadamu.
Calon Istriku…
Jangan menangis, jangan bersedih, hapus keraguan di dalam hatimu. Percayalah padaNYA, Yang Maha Pemberi Cinta, bahwa ini hanya likuan hidup yang pasti berakhir. Yakinlah saat itu pasti ‘ kan tiba.
Tak usah kau risau karena makin memudarnya kecantikanmu. Karena kecantikan hati dan iman yang dicari. Tak usah kau resah karena makin hilangnya aura keindahan luarmu. Karena aura keimananlah yang utama. Itulah auramu yang memancarkan cahaya syurga. Merasuk dan menembus relung jiwa.
Wahai perhiasan terindah…
Hidupmu jangan kau pertaruhkan. Hanya karena kau lelah menunggu. Apalagi hanya demi sebuah pernikahan. Karena pernikahan tak dibangun dalam sesaat, tapi ia bisa hancur dalam sedetik. Seperti Kota Iraq yang dibangun berpuluh tahun, tapi bisa hancur dalam waktu sekian hari.
Jangan pernah merasa, hidup ini tak adil. Kita tak akan pernah bisa mendapatkan semua yang kita inginkan dalam hidup. Pasrahkan inginmu sedalam kalbu pada tahajjud malammu. Bariskan harapmu sepenuh rindumu pada istikharah di shalat malammu. Pulanglah padaNYA, ke dalam pelukanNYA. Jika memang kau tak sempat bertemu diriku, sungguh itu karena dirimu begitu mulia, begitu suci. Dan kau terpilih menjadi ainul mardhiyah di jannahNYA.
Calon Istriku…
Skenario Allah adalah skenario terbaik. Dan itu pula yang telah Ia skenariokan untuk kita. Karena Ia sedang mempersiapkan kita untuk lebih matang merenda hari esok seperti yang kita harapkan nantinya. Untuk membangun kembali peradaban ideal seperti cita kita.
Calon istriku…
Ku tahu kau merinduiku, bersabarlah saat indah ‘ kan menjelang jua. Saat kita akan disatukan dalam ikatan indah pernikahan. Apa kabarkah kau di sana ? Lelahkah kau menungguku berkelana, lelahkah menungguku kau di sana ? Bisa bertahankah kau di sana , tetap bertahanlah kau di sana . Aku akan segera datang, sambutlah dengan senyum manismu. Bila waktu itu telah tiba, kenakanlah mahkota itu, kenakanlah gaun indah itu. Masih banyak yang harus kucari, ‘tuk bahagiakan hidup kita nanti…
Calon istriku…
Malam ini terasa panjang dengan air mata yang mengalir. Hatiku terasa kelu dengan derita yang mendera, kutahan derita malam ini sambil menghitung bintang. Cinta membuat hati terasa terpotong-potong. Jika di sana ada bintang yang menghilang, mataku berpendar mencari bintang yang datang. Bila memang kau pilihkan aku tunggu sampai aku datang.
Ku awali hariku dengan tasbih, tahmid dan shalawat. Dan mendo’akanmu agar kau selalu sehat, bahagia, dan mendapat yang terbaik dari-Nya. Aku tak pernah berharap kau ‘ kan merindukan keberadaanku yang menyedihkan ini. Hanya dengan rasa rinduku padamu, kupertahankan hidup. Maka hanya dengan mengikuti jejak-jejak hatimu, ada arti kutelusuri hidup ini. Mungkin kau tak pernah sadar betapa mudahnya kau ‘tuk dikagumi. Akulah orang yang ‘ kan selalu mengagumi, mengawasimu, menjagamu dan mencintaimu.
Calon Istriku…
Saat ini ku hanya bisa mengagumimu, hanya bisa merindukanmu. Dan tetaplah berharap, terus berharap. Berharap aku ‘ kan segera datang. Jangan pernah berhenti berharap. Karena harapan-harapanlah yang membuat kita tetap hidup.
Bila kau jadi istriku kelak, jangan pernah berhenti memilikiku dan mencintaiku hingga ujung waktu. Tunjukkan padaku kau ‘ kan selalu mencintaiku. Hanya engkau yang aku harap. Telah lama kuharap hadirmu di sini. Meski sulit harus kudapatkan. Jika tidak kudapat di dunia, ‘ kan kukejar sang ainul mardhiyah yang menanti di syurga.
Ku akui cintaku tak hanya hinggap di satu tempat, aku takut mungkin diriku terlalu liar bagimu. Namun sejujurnya, semua itu hanyalah persinggahan egoku, pelarian perasaanku dan sikapmu telah meluluhkan jiwaku. Waktu pun terus berlalu dan aku kian mengerti apa yang akan ku hadapi dan apa yang harus kucari dalam hidup.
Kurangkai sebuah tulisan sederhana ini untuk dirimu yang selalu bijaksana. Aku goreskan syair sederhana ini, untuk dirimu yang selalu mempesona. Memahamiku dan mencintaiku apa adanya. Semoga Allah kekalkan nikmat ini bagiku. Semoga…
Kau terindah di antara bunga yang pernah aku miliki dahulu
Kau teranggun di antara dewi yang pernah aku temui dahulu
Kau berikan tanda penuh arti yang tak bisa aku mengerti
Kau bentangkan jalan penuh duri yang tak bisa aku lewati
Begitu indah kau tercipta bagi Adam
Begitu anggun kau terlahir sebagai Hawa
Kau terindah yang pernah kukagumi meski tak bisa aku miliki
Kau teranggun yang pernah kutemui meski tak bisa aku miliki
(Dewi Khayalan – Daun Band)
Ya Allah… ringankanlah, kerinduan yang mendera. Kupanjatkan sepotong doa setiap waktu, karena keinginan yang menyeruak di dalam diriku.
Ya Allah… ampuni segala kesilafan hamba yang hina ini ringankan langkah kami. Beri kami kekuatan dan kemampuan tuk melengkapkan setengah dien ini, mengikuti sunnah RasulMu jangan biarkan hati-hati kami terus berkelana tak perpenghujung yang hanya sia-sia dengan waktu dan kesempatan yang telah Engkau berikan.
Wassalamu’alaikum.
Penuh Cinta Selalu Untuk Selamanya,

Menanti Sebuah Jawaban

setulusnya aku akan terus menunggu
menanti sebuah jawaban tuk memilikimu
Sepenggal  syair dari band “Padi” di atas melintas manakala aku sedang menunggu sebuah keputusan darimu.
Menanti memang sesuatu hal yang kurang menyenangkan dalam segala situasi dan kondisi. Sebagian besar orang menganggap menanti adalah sesuatu yang amat membosankan dan menjenuhkan. Namun, bagaimanakah apabila kita sedang menanti sebuah jawaban dari seseorang yang dirindukan dan didambakan kehadirannya untuk menjadi pendamping hidup dunia dan akhirat? Oh, semoga penantianku ini dapat mengkokohkan keimananku di dalam sebuah ujian kesabaran.
Berawal dari sebuah skenario yang telah Allah Swt tetapkan dan ridhoi, hingga Allah membukakan pandangan ini kepada sesosok di balik gaun yang melekat dengan baik dan indah itu. Ke-ngeuh-an yang baru kusadari saat itu, tampak melalui keistiqomahanmu serta kesabaranmu yang kulihat hingga saat ini. Berlanjut dengan pertemuan singkat hingga diskusi yang membuatku tahu keteguhan serta ilmumu yang kusimak dari caramu menjawab pertanyaan. Kemudian aku panjatkan permohonan – permohonan kepada Yang Maha Pemurah dan Maha Pemberi petunjuk, Allah Swt hingga ku beranikan diri untuk melontarkan sebuah tanya padamu ‘sebuah lamaran’.
“Bilakah dalam dirimu terdapat kekurangan dari harapanku dan pikiranku, biarkanlah ia menjadi berkah darimu atasku. Bilakah dalam dirimu terdapat kelebihan dari harapanku dan pikiranku, biarkan ia menjadi Rahmat dan Karunia Allah swt padamu atasku.” Karena niatanku dan telah kuikhlaskan segalanya yang ada padamu.
“Bilakah dalam diriku ada kurang dari harapan dan pikiranmu, pikirkanlah dua kali, tiga kali bahkan berkali-kali sehingga kau ikhlas atasku. Bilakah aku bukan seperti yang kau idamkan dan impikan, pertimbangkanlah berkali-kali karena aku hanyalah hamba yang tak mengenal diriku sebaik Robb Penciptaku mengenalku”. Pikirkanlah dan renungkanlah,…. karena aku tidaklah sempurna.
Ketahuilah niat dan ajakan ini telah kupelihara dari iri, dan ketahuilah sejak niatan ini kutanyakan padamu pandangan mataku lebih terarah dan terjaga. Dan ketahuilah sejak munculnya niatan dan ajakan ini, hati dan pikiranku kembali terisi dan fokus…..apapun jawabmu…………..terima kasih kuucapkan walau tak kuucapkan langsung padamu. Karena selama beberapa saat menanti jawaban darimu aku telah beroleh ketentraman hati hingga bisa menulis ini.
Menjadi hamba yang malu bila harus mati membujang, Allah Azza wa Jalla telah ridha kutanyakan dirimu atasku. Tak kan kaudapati kekuranganku secara sengaja karena pasti akan ku tutupi karena aku adalah pasanganmu, yang kan memuliakan dan melindungimu dari segala hal yang menyakitimu dan itu adalah janjiku padamu.
Darah yang mengalir di tubuh dan di leher tak kan kuhiraukan meski aku jijik dan takut akan kematian, namun Allah Azza wa Jalla telah ridha atas tanyaku…..inilah tulisanku dalam menanti sebuah jawaban….”Barakallahulaka wa baraaka alaika bainakuma fi khair” terucap doa itu dari semua muslim dalam acara walimah…
….
Jangan pula kau biarkan rasa suka yang mendalam mengalahkan kesempatan-kesempatan yang datang padamu.
Kau simpan cinta yang tak pasti di hatimu, dan biarkan cinta lain yang datang pergi meninggalkanmu.
Karena … sekali lagi … cinta saja tak cukup untuk menyalakan lentera di bahtera rumah tanggamu nanti.
Tak pernah kita tahu, apakah dibalik ketidak sempurnaan dalam pandangan mata, tersembunyi keberkahan yang melimpah ruah …

Denyut keberkahan …
Itulah yang mesti kita telisik di dada ketika cinta menyapa …
Ada beda yang akan kau rasa, tentang dia …
Beda itu akan menguatkan azzammu …
Menjagamu tetap dalam logika keimanan ketika menilai harta dan rupa …

Janji Allah itu pasti, karenanya niatkan keberkahan hadir di setiap keputusan hidupmu, termasuk keputusan menemani seseorang dalam jalan juang menuju pertemuan indah dengan-Nya.
Allahuma yasiru wa laa tu’asiru
Sebuah tulisan seorang akhi yang aku sisipkan kembali ke dalam tulisanku dengan versiku atas penantiannya yang serupa denganku saat ini….
“Ya Allah, jadikanlah aku ridho terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan barokah apa-apa yang telah Engkau takdirkan, sehingga tidak ingin aku menyegerakan apa-apa yang engkau tunda dan menunda apa-apa yang Engkau segerakan”.

Jumat, 25 November 2011

Semua bermakna semua berarti

Pernahkah kita berfikir untuk menjadi hal yang utama
dalam peran hidup yang kita jalani
ingin menjadikan kehadiran kita sebagai suatu yang penting
atau bisa dikatakan orang yang slalu update,eksis dll

Oh..tidak kawan,Hilangkan dan buang jauh2 berfikir seperti itu
karna itu hanya menjadikan kita pecundang yg ingin dihargai
tapi kadang kita sendiri tak pernah merasa org lain itu sesuatu yg berharga
ingin dibutuhkan tapi kita merasa tidak membutuhkan mereka
cobalah bercermin dari sudut yg berbeda

ketika kita menyadari bahwa didunia ini tak ada yang sempurna
semua saling membutuhkan karna semua bermakna
semua saling melengkapi karna semua berarti
jika mereka berfikir bahwa kita ini sangat berarti
maka,berfikirlah bahwa mereka pun sangat berarti

coba sejenak kita melihat pribadi panglima perang islam yg tak terkalahkan ini
ya.. Kholid Bin Walid Ra namanya
panglima perang yg disegani oleh lawan dan kawan
panglima perang yang sangat dibanggakan oleh Rasulullah dan Abu Bakar
namun,itu semua berakhir ditangan kepemimpinan Umar Bin Khatab Ra
ketika Kholid menjadi sosok yang diagung2 kan oleh prajurinya

pernah suatu ketika beliau ditanya "Hi..Kholid karnamulah Islam bisa seperti ini"
namun Kholid berkata "bukan.. tapi karna islamlah aku bisa seperti ini"
lalu ditanya lagi oleh salah 1 sahabatnya "apakah kamu masih mau berperang setelah engkau tidak lagi menjadi panglima perang ini"
Kholid tersenyum dan berkata "Aku berjuang karna Allah bukan karna umar"
adalkah panglima perang yang lebih mulia dari dia?

dan ingatkah kita akan pidato Abu Bakar Ra ketika diangkat menjadi Kholifah pertama?
dengan rendah hati beliau berkata "Wahai Tuan2.. Aku bukanlah yang terbaik diantara Tuan2,maka dari itu bantuah aku.. barang siapa yang melihatku telah berbuat salah maka tegurlah aku, dan barangsiapa yang melihatku dalam kebenaran maka bantulah aku, yang kuat diantara kalian akan menjadi lemah dihadapanku karna keadilan allah sehingga mereka tidak lagi berbuat aniaya terhadap orang lain, dan yang lemah akan menjadi kuat dihadapanku karna keadilan allah sehingga hak2nya telah terpenuhi, Insya Allah"
inilah 2 kisah diantara contoh tauladan yang ada

mereka tak pernah berfikir bahwa mereka lebih berarti dibandingkan yang lain
semua berarti meskipun tak pernah terlihat
semua bermakna meskipun tak memiliki makna yang besar
jangan pernah meremehkan dan merendahkan sesuatu yang kecil

Mobil mewahpun tak berarti tanpa sebuah pentil
Istana yang megah tak terlihat indah tanpa pelayan2 kecil yang membersihkannya
hilangkan egomu,lupakanlah baju2mu
jika kau fikir baju adalah kehormatanmu,maka ia akan cepat usang dan sobek
jika kau fikir dirimu adalah kehormatanmu,maka ia akan kekal selamanya

seseorang tak menjadi rendah karna berlaku bersahaja
seseorang tidak menjadi mulia karna kesombongannya
seseorang tidak menjadi besar karna mengucilkan orang lain
seseorang tidak menjadi kecil karna menghargai yang kecil

jadilah manusia yang besar bukan manusia besar berjiwa kerdil
jadilah manusia yang mulia bukan manusia mulia bermuka penjilat
jadilah manusia terhormat bukan manusia yang gila hormat
tersenyumlah maka dunia akan tersenyum kepadamu

Rabu, 09 November 2011

Palestina

kelabu merupakan warna bumi dan langitmu
kemulyaan adalah jati dirimu
perjuangan merupakan urat nadimu
keimanan adalah hidupmu...

kini kau terluka..demi masa depan islam yang mulia
kini kau tercabik-cabik..hanya untuk mempertahankan sang kholik
dan kini kau berdarah..sebagai mahar tuk memasuki janah
dan kini kau dirongrong..karna mereka takut melihat ketegaran imanmu itu yang bagaikan karang

kau telah melahirkan anak-anak Qurani...
kau menciptakan rahim-rahim ibu yang pemberani..
karna kau universitas para nabi..

kau memang miskin tapi dunia barat menganggapmu kaya
kaya akan keimananmu...
kau memang kecil tapi Allah lah yang membesarkanmu dihadapan kaum kafir..
kau terlihat lemah tapi kau cukup kuat untuk seukuran mereka para penyembah setan..

kami iri kepadamu yang tak bisa menyaingi imanmu
ku lihat kau sudah mengangkat senjata??
sedangkan kami baru belajar arti jihad
ku lihat kau sudah mengenalkan islam pada dunia??
sedangkan kami baru mengenalkan islam pada keluarga
ku lihat kau telah sumbangkan ribuan para syuhada??
sedangkan kami baru mencita-citakannya

kau adalah janji para nabi...
kau telah tunaikan sabda nabi...
karena kau adalah harapan kami...
dan karna kau palestina yang dicintai...

Inilah Cinta

Inilah Cinta... Cintanya seorang Rasul kepada ummatnya
ketika kematian datang menghampirinya
yang hanya di ucapkan adalah kalimat ummati..ummati..ummati..

Inilah Cinta...Cintanya seorang Abu Bakar Assydiq RA
ketika saudagar kaya meninfaqan seluruh hartanya
dan hanya membekali Allah & Rasulnya untuk keluarganya

Inilah Cinta...Cintanya duta islam pertama Mushab Bin Umair RA
ketika pemuda ganteng keturunan bangsawan yang meninggalkan kemewahan dunianya
dan yg tersisa hanya selembar kain pendek tuk menutupi jasadnya yang telah gugur
namun hanya mampu menutupi kepalanya saja dan kakinya hanya ditutupi oleh dedaunan

Inilah Cinta...Cintanya Seorang Bilal Bin Rabbah RA
ketika tubuhnya diletakan batu besar di trik matahari yang membakar
yang di ucapkan hanya Ahad..Ahad..Ahad..
kata2 yang dujadikan yel2 perang badar dan membuat kecut kaum kuffar

Dan sungguh inilah Cinta..Cintanya singa Allah Ummar BIn Khatab RA
ketika dunia berada dalam genggamannya
namun Ia hanya memiliki 1 buah baju dengan 80 tambalan
dan rela memikul beberapa karung gandum untuk diberikan fakir miskin dan memasakannya pula

Inilah cinta...

Kala ruh, darah, dan jasad ini Adalah bukti cinta para pecinta sejati

Layaknya jantung yang terkoyak milik Hamzah Bin Abdul Mutthalib

Tubuh yang tercabik berpuluh pedang milik Anas Bin Abi Nadr di perang uhud

Hingga tiada terkenali kecuali dari jarinya yang tersisa

Inilah cinta...

Kala maal, jiwa dan raga Adalah saksi cinta tak terbantahkan

Inilah cinta Kala tetesan peluh, tetesan darah, degupan jantung Menoreh sejarah sepanjang masa


Demi Allah sungguh inilah Cinta..

Cintanya para Sahabat yang tidak ada sebelum dan sesudahnya
sebuah cinta Abadi nan suci
cinta yang mengantarkan kesyurga



maka,masuklah kedalam golongan cinta hamba-hambaku
dan masuklah kedalam Syurgaku (Al Fajr: 29-30)

Berat Terasa Amanah Ini

suatu malam yang hening dan sepi
ku termenung dalam kegelisahan dan ketakutan
mata ini sungguh sulit tuk dipejamkan
akan ketakutanku dengan sebuah pertanyaan2
entah siapa yang bertanya...

pertanyaan yang selalu mengikuti ku disetiap malam..
yah..malam ini pertanyaan itupun datang kembali

bagaimana mungkin aku mendapatkan syurga-Nya,,
sedangkan aku sendiri tidak mengetahui kuncinya?
bagaimana mungkin aku tahan dengan siksa neraka-Nya,,
sedangkan musibah yang sekarang kualami saja cukup menderita kurasakan??

bagaimana caranya agar aku bisa menangis dalam sujudku
sedangkan makna yang kubaca saja aku tidak mengerti??
bagaimana mungkin Allah sebagai cintaku yang pertama
sedangkan aku sendiri tidak mengenal-Nya??

bagaimana mungkin aku rindu akan kehadiran Rasul SAW itu
sedangkan aku sendiri tidak mengetahui sejarah kehidupannya??
bagaimana mungkin aku mau memperjuangkan islam dengan hidupku
sedangkan Aku sendiri tidak tahu ajaran2 islam itu sendiri??

bagaimana mungkin aku ini tidak memiliiki dosa2 yang besar
sedangkan aku sendiri tidak tahu dosa itu apa saja dan seperti apa??
aku tahu aku pasti akan mati
tapi kenapa aku tidak pernah mempersiapkan kematian itu?
akupun tahu dunia ini pasti meninggalkanku
tapi kenapa aku trus membanting tulang untuk menumpuknya??

Ya Allah,,sungguh aku telah membaca ayat tentang amanat yang engkau tujukan kepadaku??
Ya Allah,,bagaimana mungkin aku sanggup memikul amanah ini??
sedangkan gunung,langit,bumi dan lautan pun tak sanggup tuk memikulnya??
Ya Allah,,apa yang harus aku lakukan??
yang aku tahu sekarang ini hanya memohon kepadamu tuk memberikan kasih sayang-Mu kepadaku

sungguh perjalanan hidup ini dan perjalanan menuju Kerhidoan-Mu sangat melelahkanku
sekiranya bukan karna kuasa-Mu,,sungguh aku tidak tahu bagaimana akhir kehidupanku

aku takut..
aku lelah..
aku marah..
aku terluka..
aku benci..
karna kelemahan dan kebodohanku yang tidak mengetahui hakikat penciptaan-Mu atas Ku
ku harap dengan kekuatan dan kuasamu serta ilmu-Mu Engkau mau membimbingku..

Menggenggam Bara

jika merah kan kugenggam
sebagai saksi dlm derita

jika putih kan ku lepas
sebagai akibat kelalaian

sanggupkah diri ini tergadaikan
oleh cerita sang pujangga kebenaran

mengabaikan semua perih
menghalau semua jerit
menghibah semua semu
melawan semua jemu
mengais semua keluh

semua berwarna merah
merah bara yang merekah
seperti panasnya mekkah

hanya untuk diri NYA
hanya untuk NYA
dan untuk semuanya

yang ada diatas sana
yang ada dialam sana
dan yang ada disana

Adik Kecil

Adik kecil..
kenapa kau bermain2 dg batu itu
permainan apakah yg kau mainkan
kau berlari2,bersembunyi dg sahabat2mu..

Adik kecil...
bisakah kau ajarkan kk tuk bermain dg batu itu
bersamamu,bersma teman2ku..
kau sangat bersemangat tak kenal lelah

Adik kecil...
Aku lihat kau berlumuran darah
dan kau anggap sebagai darah suci
sebuah darah merah penuh amarah
darah pengorbanan,darah kehormatan,dan darah harga diri

Wahai Adik kecil
rasa takut seakan pergi bersama lemparan batumu
rasa lelalh seolah mencair bersama tetesan darahmu
rasa lapar tergantikan dengan semangat juangmu

Anak kecil..
ajarkan aku tuk melupakan rasa itu
bom2 mortir kau anggap sbg kewajaran
dentuman peluru kau jadikan permainan
ayah ibumukah yg mengajari itu semua
melawan tiran berjiwa binatang

wahai adik kecil
malam2mu hanya beralaskan tikar usang
kecil,tipis bagaikan kulit bawang
selimutmi berhiaskan bintang2
keheningan sulit diharapkan

Wahai adik kecil...
ijinkan kk bermalam bersamamu
shalat tahajud bersama teman2mu
bercerita,berdoa,becanda dan tertawa
berangkulan dlm cinta seorg kaka

wahai adik kecil...
aku ingin bersama dlm langkahmu
pengobar semangat mengusir manusia binatang
bergotong royong mengangkatmu yg tumbang
jadikan kaka sbg sahabat juang..

Wahai Anak kecil..
barkan aku mengusap airmatamu
mengobati luka2mu
menyuapi makananmu
layaknya seorg ayah kepada anaknya..

Adik kecil..
maafkan kaka,sahabat dan ayahmu
blm bisa terbang kenegrimu
tuk melindungi sayap2mu
hanya doa yg terlimpah untukmu

wahai adik kecil..
aku tak tau siapa yg beruntung diantara kita
kau mungkin iri dgku berada dinegeri yg damai
kau hanya mengetahui hakikat lahirku saja
hidup dlm damai,tenang dan sejahtera
apakah kau tahu hakikat terdalamku
kegoncangan,kebimbangan akan hadir disisimu

Adik kecil..
Aku takut dg imanku
dg ilmu dan amalku
yg tak berarti dg titisan darahmu

wahai adik kecil..
Bersabarlah tuk mendapatjkan keridhaan Allah
bersyukurlah dgn karunia Allah
kau terlahir dinegeri pejuang
hidup sbg pejuang
mati sbg syuhada
syurga sbg buah pengorbanan

Mana Bukti Persaudaraaanmu

Ingin kusampaikan kerinduan yang terus menderu dan memburu akan nilai persaudaraan ukhuwah islamiyah.
Kerinduanku sungguh tak terperi menunggu manusia pilihan yang mampu mengikat jiwa yang bergetar mendambakan persatuan umat, ittihadul ummah.
Kerinduanku terus mengetuk diri yang dahaganya belum terpuaskan untuk mereguk dan menebar benih cinta di antara kita. Jiwaku bagaikan tersayat setiap saat melihat kehidupan.
Akhlak dan nilai persaudaraan telah menjadi arsip kuno yang kusam, bahkan tak segan diremas dan dicampakkan. Wajah-wajah welas asih telah berubah mewujudkan dirinya dalam amarah dan keserakahan

Memang, sesekali kudengar nyanyian merdu tentang kesederhanaan dan persaudaraan, tetapi berulang kali kusaksikan orang-orang yang jiwanya terpenjara, terperangkap dalam perburuan kemewahan seraya menebar racun perseteruan. Ukuran persaudaraan adalah kekayaan, sedangkan akhlaqul karimah telah tersingkir bagaikan batu penghalang mencapai keberhasilan. Ingin kusampaikan kepadamu bila persaudaraan memanggilmu, ikutilah dengan rasa rindu. Walau dalam perjalanan harus melintasi batu-batu duka yang membuta jiwa, didera deru derita sekalipun! Karena rintihanmu yang penuh duka akan berujung pada kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Bila persaudaraan memelukmu, pasrahkan dirimu kepadanya walau engkau tak mendapatkan harta dan pujian. Bagaikan lilin, kaku tebarkan cahaya, walau tubuhnya hancur tak berbentuk. Persaudaraan sejati bagaikan kaum Anshar yang rela mendahulukan kebahagiaan bagi saudaranya, kaum Muhajirin. Karena bagi perindu Illahi, bukan dunia tempat pemberhentiannya. Bagi pencari cinta, justru dalam persaudaraan itu ia dapatkan wewangiannya.
Bagaikan lebah yang berjumpa dengan bunga merekah. Mereka saling memberi. Lebah yang rendah hati tak akan mematahkan ranting yang dihinggapinya. Sang bunga rela melepaskan putik sarinya karena dengan memberi, ia akan menunggu ranumnya bebuahan. Sang lebah membalasnya dengan madu yang menambah hidup semakin berwarna.
Belajarlah dari mereka tentang makna persaudaraan.
Cinta sejati bukanlah ingin mengambil, tetapi bahagia berbagi dan memberi. Bila kau berhitung mengambil keuntungan dari persaudaraanmu engkau sedang berdagang dengan menampakkan wajah yang memelas dan sapaan yang sopan. Sebuah kepura-puraan yang sejati. Bila tak diperoleh keuntungan dari pertemuan itu, kau palingkan mukamu dan kau anggap pertemuanmu itu sia-sia. Jiwamu sungguh dangkal dan kering. Menganggap persaudaraan sebagai komoditas, barang dagangan!
Tidak! Persaudaraan sejati tidak dapat diukur dengan seberapa banyak kau mendapatkan, tetapi berapa banyak engkau memberikan! 
Kemudian, kulihat mesjid-mesjid dibangun saling berdekatan. Kusaksikan pada pemuda yang mukhlis menjajakan kotak-kotak derma untuk membangun rumah Tuhan, tetapi dengan hati yang pedih, kusaksikan mesjid yang kehilangan ruh. Bagaikan kuburan cina, indah dan mahal bangunannya, luas tanahnya, tetapi sepi dan mencengkam ketika malam hari mendekapinya. Di rumah Tuhan, tidak kudapatkan lagi kehangatan akhlaq, manisnya persaudaraan dan membaranya api jihad.
Syukurlah di hari Jum’at, rumah Tuhan sesak pengunjungnya, tetapi sekedar gerak kompak dalam shalat, sabar menahan kantuk dibelai khotbah. Setelah bubar dan masing-masing diantara kita kembali menjadi orang-orang asing, tak lagi peduli siapa jamaah disebelahnya. Padahal diantara mereka ada sepenggal hati yang guncang. Ada perut yang perih menahan lapar. Ada yang terpenjara dalam belitan utang. Kita belum berjamaah. Bagaikan kerumunan manusia menyaksikan kecelakaan. Mereka saling berkomentar, tetapi masing-masing larut mencekam bahkan enggan bertegur sapa, apalagi membelah jiwa mendengar rintihan saudaranya.
Saat ini kulihat rumah-rumah Tuhan hanyalah terminal tempat kita asyik sendiri melepaskan lelah batin, tanpa memberi ruang untuk tegur sapa dan merendanya dalam cinta persaudaraan. Di rumah Tuhan, tidak ada lagi orang yang kehilangan saudaranya, tidak ada tanya kemanakah gerangan si fulan? Memang suara adzan bersahutan dari menara ke menara, tak lupa dilengkapi loudspeaker paling mutakhir, tetapi hanya mampu mengumpulkan jumlah bilangan manusia, tak mampu mengikat hati mereka.

(diambil dari ringkasan  mukaddimah sebuah buku BROTHERHOOD karya KH.toto Tasmara

Senin, 17 Oktober 2011

Adiku Annisa

Saya ingin bercerita mengenai kisah adik saya, Nur Annisa, seorang gadis yang baru menginjak dewasa tetapi agak kasar dan suka berkelakuan seperti lelaki. Ketika usianya mencecah 17 tahun, perkembangan tingkah lakunya benar-benar membimbangkan ibu. Dia sering membawa teman-teman lelakinya pulang ke rumah.

Situasi ini menyebabkan ibu tidak senang tambahan pula ibu merupakan guru Al_Quran. Bagi mengelakkan pergaulan yang terlalu bebas, ibu telah meminta adik memakai tudung. Permintaan ibu itu ditolaknya sehingga seringkali berlaku pertengkaran-pertengkaran kecil antara mereka.

Pernah pada suatu masa, adik berkata dengan suara yang agak keras,
"Coba mama lihat, tetangga-tetangga kita pun ada yang anaknya pakai jilbab, tapi perangainya sama seperti orang yang tak pakai jilbab. Sampai kawan-kawan ani dekat sekolah, yang pakai jilbab pun selalu pergi-pergian dengan om-om, pegang-pegang tangan. Ani ni, walaupun tak pakai jilbab, tak pernah berbuat kayak gituan!"
Ibu hanya mampu mengelus dada mendengar kata-kata adik. Kadang kala saya terlihat ibu menangis di akhir malam. Dalam qiamullailnya. Terdengar lirih doanya " Ya Allah, kenalkan ani dengan hukum-hakam-Mu".

Pada satu hari ada tetangga yang baru pindah berdekatan dengan rumah kami. Sebuah keluarga yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil. Suaminya bernama Abu khoiri,(nama sebenarnya siapa, tak dapat dipastikan). Saya mengenalinya sewaktu di masjid. Setelah beberapa lama mereka tinggal berhampiran rumah kami, timbul desas desus mengenai isteri Abu Khoiri yang tidak pernah keluar rumah, hingga ada yang menggelarnya si buta, bisu dan tuli. hal ini telah sampai ke pengetahuan adikku. Dia bertanya kepada saya,
"Abang, betul kah orang yang baru pindah itu, isterinya buta, bisu dan tuli?"

Lalu saya menjawab sambil cuek,
"Kalau mau tahu, pergi aja ke rumahnya, tanya sendiri"

Eh bener tuh adik mengambil serius kata-kata saya dan benar-benar pergi ke rumah Abu Khoiri. Sekembalinya dari rumah mereka, saya melihat perubahan yang benar-benar drastis berlaku pada wajah ani. Wajahnya yang tak pernah muram atau lesu menjadi pucat lesu..entah apa yang telah berlaku?
Namun, selang dua hari kemudian, dia minta ibu buatkan jilbab. jilbab yang jatuh ke bawah. Adikku pakai baju panjang.. Lengan panjang pula tuh. Saya sendiri jadi bingung.. Bingung campur syukur kepada Allah SWT kerana saya melihat perubahan yang ajaib.. Ya, saya katakan ajaib kerana dia berubah seratus persen! Tiada lagi anak-anak muda atau teman-teman wanitanya yang datang ke rumah hanya untuk bercakap perkara-perkara yang tidak tentu arah... Saya lihat, dia banyak merenung, banyak baca majalah Islam (biasanya dia suka beli majalah hiburan), dan saya lihat ibadahnya pun melebihi saya sendiri..

Tak ketinggalan tahajudnya, baca Qur'annya, solat sunat nya..dan yang lebih menakjubkan lagi, bila kawan-kawan saya datang, dia menundukkan pandangan.. Subhanallah.....Segala puji bagi Engkau wahai Allah, jerit hati saya..
Tidak lama kemudian, saya mendapat panggilan untuk bekerja di kalimantan, kerja di satu perusahaan minyak CALTEX. Dua bulan saya bekerja di sana, saya mendapat khabar bahawa adik sakit tenat hingga ibu memanggil saya pulang ke rumah ( rumah saya di Madiun). Dalam perjalanan, saya tak henti-henti berdoa kepada Allah SWT agar adikku ani di beri kesembuhan, hanya itu yang mampu saya usahakan.

Ketika saya sampai di rumah..di depan pintu sudah banyak orang..hati berdebar-debar, tak dapat ditahan...saya berlari masuk ke dalam rumah..saya lihat ibu menangis .. saya segera menghampiri ibu lantas memeluknya....dalam isak tangisnya ibu memberitahu, "Dhi, adik bisa mengucapkan kalimat Syahadah diakhir hidupnya".. Air mata ini tak dapat ditahan lagi...

Setelah selesai upacara pengkebumian dan lain-lainnya, saya masuk ke bilik adikku. Saya lihat di atas mejanya terletak sebuah diari. Diari yang selalu adik tulis. Diari tempat adikku menghabiskan waktunya sebelum tidur semasa hayatnya. Kemudian diari itu saya buka sehelai demi sehelai...hingga sampai pada satu halaman yang menguak misteri dan pertanyaan yang selalu timbul di hati ini..
Perubahan yang terjadi ketika adik baru pulang dari rumah Abu khoiri..di situ tertera tanya jawab antara adik dan isteri tetangga kami itu. Butirannya seperti ini:

Soaljawab (saya lihat di lembaran itu terdapat banyak bekas tetesan air mata)

Annisa : (Aku hairan,wajah wanita ini cerah dan bersinar seperti bidadari) Ibu.. wajah ibu sangat muda dan cantik

Isteri tetanggaku : Alhamdulillah ..sesungguhnya kecantikan itu datang dari lubuk hati

Annisa : Tapi ibu kan sudah punya anak enam .. Tapi masih kelihatan cantik

Isteri tetanggaku : Subhanallah..sesungguhnya keindahan itu milik Allah SWT. Dan bila Allah SWT berkehendak.. Siapakah yang bisa menolaknya?

Annisa : Ibu... Selama ini ibu saya selalu menyuruh saya memakai jilbab..tapi saya selalu menolak kerana saya rasa tak ada masalah kalau saya tak pakai jilbab, asalkan saya berkelakuan baik. Saya lihat, banyak wanita yang pakai jilbab tapi kelakuannya melebihi kami yang tak pakai..sampaikan saya tak pernah rasa ingin pakai jilbab..pendapat ibu bagaimana ?
Isteri tetanggaku: Annisa, sesungguhnya Allah SWT menjadikan seluruh tubuh wanita ini perhiasan dari ujung rambut hingga ujung kaki, segala sesuatu dari tubuh kita yang terlihat oleh bukan muhrim kita semuanya akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT nanti, jilbab adalah perlindungan untuk wanita ..

Annisa : Tapi yang saya lihat, banyak wanita berjilbab yang kelakuannya tak baik..

Isteri tetanggaku: jilbab hanyalah kain , tapi hakikat atau makna di sebalik jilbab itu sendiri yang harus kita pahami

Annisa : Apakah hakikat jilbab ?

Isteri tetanggaku : Hakikat jilbab adalah perlindungan zahir batin, lindungi mata kamu dari memandang lelaki yang bukan muhrim kamu, lindungi lidah kamu dari mengumpat orang dan bercakap perkara yang sia sia .. Senantiasalah lazimi lidah dengan zikir kepada Allah SWT, lindungi telinga kamu dari mendengar perkara yang mengundang mudharat baik untuk dirimu maupun masyarakat, lindungi hidungmu dari mencium segala yang berbau busuk, lindungi tangan-tangan kamu dari berbuat sesuatu yang tidak senonoh, lindungi kaki kamu dari melangkah menuju maksiat, lindungi fikiran kamu dari berfikir perkara yang mengundang syaitan untuk memperdayai nafsu kamu, lindungi hati kamu dari sesuatu selain Allah SWT, bila kamu sudah bisa, maka jilbab yang kamu pakai akan menyinari hati kamu.. Itulah hakikat jilbab

Annisa : Ibu, sekarang saya sudah jelas tentang arti jilbab...mudah mudahan saya mampu pakai jilbab. Tapi, bagaimana saya mau melakukannya?

Isteri tetanggaku: Duhai Nisa, bila kamu memakai jilbab, itulah kurniaan dan rahmat yang datang dari Allah SWT yang Maha Pemberi Rahmat, bila kamu mensyukuri rahmat itu, kamu akan diberi kekuatan untuk melaksanakan amalan-amalan 'jilbab' hingga mencapai kesempurnaan yang diinginkan Allah SWT.

Duhai Nisa .. Ingatlah akan satu hari dimana seluruh manusia akan dibangkitkan.. Ketika ditiup sangkakala yang kedua, .. pada saat roh-roh manusia seperti anai-anai yang bertebaran dan dikumpulkan dalam satu padang yang tiada batas, yang tanahnya dari logam yang panas, tiada rumput maupun tumbuhan , ketika tujuh matahari didekatkan di atas kepala kita namun keadaan gelap gelita, ketika seluruh manusia ketakutan, ketika ibu tidak mempedulikan anaknya , anak tidak mempedulikan ibunya, sanak-saudara tidak kenal satu sama lain lagi , antara satu sama lain bisa menjadi musuh lantaran satu kebaikan lebih berharga dari segala sesuatu yang ada di alam ini, ketika manusia berbaris dengan barisan yang panjang dan masing masing hanya mempedulikan nasib dirinya, dan pada saat itu ada yang berpeluh kerana rasa takut yang luar biasa hingga tenggelam dirinya akibat peluh yang banyak, dan bermacam macam rupa-rupa bentuk manusia yang tergantung amalannya , ada yang melihat ketika hidupnya namun buta ketika dibangkitkan, ada yang berbentuk seperti hewan, ada yang berbentuk seperti syaitan, semuanya menangis..menangis kerana hari itu Allah SWT murka..belum pernah Allah SWT murka sebelum dan sesudah hari itu. Hingga ribuan tahun manusia dibiarkan Allah SWT dipadang mahsyar yang panas membara hinggalah sampai ke Timbangan Mizan. Hari itulah dipanggil hari Hisab..
Duhai Annisa, bila kita tidak berusaha untuk beramal pada hari ini, entah dengan apa nanti kita akan menjawab bila kita di tanya oleh Yang Maha Perkasa, Yang Maha Besar , Yang Maha Kuat , Yang Maha Agung. . . . . Allah SWT .
Sampai di sini saja kisah itu saya baca karena di sini tulisannya terhenti dan saya lihat banyak tetesan ai mata yang jatuh dari pelupuk matanya..

SubhanAllah Saya buka halaman berikutnya dan saya lihat tertera tulisan kecil dibawah tulisan itu "buta , tuli dan bisu.. wanita yang tidak pernah melihat lelaki selain muhrimnya , wanita yang tidak pernah mau mendengar perkara yang dapat mengundang murka Allah SWT , wanita tidak pernah berbicara ghibah dan segala sesuatu yang mengundang dosa dan sia sia"
Tak tahan airmata ini pun jatuh.semoga Allah SWT menerima adikku disisinya..Amin

Subhanallah ..saya harap cerita ini bisa menjadi iktibar bagi kita semua. Wassalam...
--------
Pengirim : Cecep Suwarno

kegundahan dan pengharapan

Malam ini mata tak mau terpejam juga. Keletihan sehari beraktivitas, tak jua membuat mata menjadi lelah. Bukan,……bukan mata yang menjadi lelah, tapi “HATI”.

        Diusia yang seharusnya sudah berpikir masa depan, diri masih bergulat saja dengan keinginan yang tak berujung tak berpangkal. Segala urusan duniawi seakan mengalahkan keinginan untuk lebih mendekat kepada Yang Maha Suci.

Ibadah sunah sudah semakin jarang dijamah, ibadah fardhu sekedar menggugurkan kewajiban yang di emban. Hidup terasa semakin kosong.

“Ya, Allah tunjukkan aku kembali kejalanMu, jalan yang penuh dengan ketenangan dan kelembutanMu”
“Berdzikir aku, diiringi rinai gerimis menjelang pagi. Kuadukan semua masalah hidup, kepada sang Pemberi Hidup (Ya, Almuhyii), kepada sang Pemberi Kemuliaan  (Ya, Al Mu’izzu), kepadaMu yang Maha Pemberi Rezeki (Ya, Ar Razzaaqu)'"


Dalam sekejap segala kegundahan larung bersama air mata yang terurai. Diatas sajadah ini, di dalam tahajudku, di dalam sujudku,…. kudapatkan kedamaian.

Hambamu yang marasa sederhana, kini merasa kaya akan karuniaMu. Hambamu yang merasa fana, kini merasa berhias mutiara kasihMu. Hambamu yang dhuafa, Kini merasa penuh dengan rahmatMu.


Tuhan betapa aku malu atas semua yang Kau beri

padahal diriku terlalu sering membuatMU kecewa
entah mungkin karna ku terlena
sementara Engkau beri aku kesempatan berulang kali agar aku kembali

dalam fitrahku sebagai manusia untuk menghambakanMU
betapa tak ada apa-apanya aku dihadapanMU

aku ingin mencintaiMU
setulusnya,sebenar-benar aku cinta
dalam do’a dalam ucapan dalam setiap langkahku
aku ingin mendekatiMU selamanya
sehina apapun diriku
kuberharap untuk bertemu denganMU ya Rabbi.....

Ketika kulipat sajadah sehabis shalat Shubuh. Semangat untuk berjihad semakin menggebu. Sebuah rahasiaMu telah terkuak di pagi ini.

Adik Kecil

Adik kecil..
kenapa kau bermain2 dg batu itu
permainan apakah yg kau mainkan
kau berlari2,bersembunyi dg sahabat2mu..

Adik kecil...
bisakah kau ajarkan kk tuk bermain dg batu itu
bersamamu,bersma teman2ku..
kau sangat bersemangat tak kenal lelah

Adik kecil...
Aku lihat kau berlumuran darah
dan kau anggap sebagai darah suci
sebuah darah merah penuh amarah
darah pengorbanan,darah kehormatan,dan darah harga diri

Wahai Adik kecil
rasa takut seakan pergi bersama lemparan batumu
rasa lelalh seolah mencair bersama tetesan darahmu
rasa lapar tergantikan dengan semangat juangmu

Anak kecil..
ajarkan aku tuk melupakan rasa itu
bom2 mortir kau anggap sbg kewajaran
dentuman peluru kau jadikan permainan
ayah ibumukah yg mengajari itu semua
melawan tiran berjiwa binatang

wahai adik kecil
malam2mu hanya beralaskan tikar usang
kecil,tipis bagaikan kulit bawang
selimutmi berhiaskan bintang2
keheningan sulit diharapkan

Wahai adik kecil...
ijinkan kk bermalam bersamamu
shalat tahajud bersama teman2mu
bercerita,berdoa,becanda dan tertawa
berangkulan dlm cinta seorg kaka

wahai adik kecil...
aku ingin bersama dlm langkahmu
pengobar semangat mengusir manusia binatang
bergotong royong mengangkatmu yg tumbang
jadikan kaka sbg sahabat juang..

Wahai Anak kecil..
barkan aku mengusap airmatamu
mengobati luka2mu
menyuapi makananmu
layaknya seorg ayah kepada anaknya..

Adik kecil..
maafkan kaka,sahabat dan ayahmu
blm bisa terbang kenegrimu
tuk melindungi sayap2mu
hanya doa yg terlimpah untukmu

wahai adik kecil..
aku tak tau siapa yg beruntung diantara kita
kau mungkin iri dgku berada dinegeri yg damai
kau hanya mengetahui hakikat lahirku saja
hidup dlm damai,tenang dan sejahtera
apakah kau tahu hakikat terdalamku
kegoncangan,kebimbangan akan hadir disisimu

Adik kecil..
Aku takut dg imanku
dg ilmu dan amalku
yg tak berarti dg titisan darahmu

wahai adik kecil..
Bersabarlah tuk mendapatjkan keridhaan Allah
bersyukurlah dgn karunia Allah
kau terlahir dinegeri pejuang
hidup sbg pejuang
mati sbg syuhada
syurga sbg buah pengorbanan

Mana Bukti Persaudaraanmu

Ingin kusampaikan kerinduan yang terus menderu dan memburu akan nilai persaudaraan ukhuwah islamiyah.
Kerinduanku sungguh tak terperi menunggu manusia pilihan yang mampu mengikat jiwa yang bergetar mendambakan persatuan umat, ittihadul ummah.

Kerinduanku terus mengetuk diri yang dahaganya belum terpuaskan untuk mereguk dan menebar benih cinta di antara kita. Jiwaku bagaikan tersayat setiap saat melihat kehidupan.
Akhlak dan nilai persaudaraan telah menjadi arsip kuno yang kusam, bahkan tak segan diremas dan dicampakkan. Wajah-wajah welas asih telah berubah mewujudkan dirinya dalam amarah dan keserakahan

Memang, sesekali kudengar nyanyian merdu tentang kesederhanaan dan persaudaraan, tetapi berulang kali kusaksikan orang-orang yang jiwanya terpenjara, terperangkap dalam perburuan kemewahan seraya menebar racun perseteruan. Ukuran persaudaraan adalah kekayaan, sedangkan akhlaqul karimah telah tersingkir bagaikan batu penghalang mencapai keberhasilan. Ingin kusampaikan kepadamu bila persaudaraan memanggilmu, ikutilah dengan rasa rindu. Walau dalam perjalanan harus melintasi batu-batu duka yang membuta jiwa, didera deru derita sekalipun! Karena rintihanmu yang penuh duka akan berujung pada kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Bila persaudaraan memelukmu, pasrahkan dirimu kepadanya walau engkau tak mendapatkan harta dan pujian. Bagaikan lilin, kaku tebarkan cahaya, walau tubuhnya hancur tak berbentuk. Persaudaraan sejati bagaikan kaum Anshar yang rela mendahulukan kebahagiaan bagi saudaranya, kaum Muhajirin. Karena bagi perindu Illahi, bukan dunia tempat pemberhentiannya. Bagi pencari cinta, justru dalam persaudaraan itu ia dapatkan wewangiannya.
Bagaikan lebah yang berjumpa dengan bunga merekah. Mereka saling memberi. Lebah yang rendah hati tak akan mematahkan ranting yang dihinggapinya. Sang bunga rela melepaskan putik sarinya karena dengan memberi, ia akan menunggu ranumnya bebuahan. Sang lebah membalasnya dengan madu yang menambah hidup semakin berwarna.Belajarlah dari mereka tentang makna persaudaraan.

Cinta sejati bukanlah ingin mengambil, tetapi bahagia berbagi dan memberi. Bila kau berhitung mengambil keuntungan dari persaudaraanmu engkau sedang berdagang dengan menampakkan wajah yang memelas dan sapaan yang sopan. Sebuah kepura-puraan yang sejati. Bila tak diperoleh keuntungan dari pertemuan itu, kau palingkan mukamu dan kau anggap pertemuanmu itu sia-sia. Jiwamu sungguh dangkal dan kering. Menganggap persaudaraan sebagai komoditas, barang dagangan!
Tidak! Persaudaraan sejati tidak dapat diukur dengan seberapa banyak kau mendapatkan, tetapi berapa banyak engkau memberikan! 
Kemudian, kulihat mesjid-mesjid dibangun saling berdekatan. Kusaksikan pada pemuda yang mukhlis menjajakan kotak-kotak derma untuk membangun rumah Tuhan, tetapi dengan hati yang pedih, kusaksikan mesjid yang kehilangan ruh. Bagaikan kuburan cina, indah dan mahal bangunannya, luas tanahnya, tetapi sepi dan mencengkam ketika malam hari mendekapinya. Di rumah Tuhan, tidak kudapatkan lagi kehangatan akhlaq, manisnya persaudaraan dan membaranya api jihad.

Syukurlah di hari Jum’at, rumah Tuhan sesak pengunjungnya, tetapi sekedar gerak kompak dalam shalat, sabar menahan kantuk dibelai khotbah. Setelah bubar dan masing-masing diantara kita kembali menjadi orang-orang asing, tak lagi peduli siapa jamaah disebelahnya. Padahal diantara mereka ada sepenggal hati yang guncang. Ada perut yang perih menahan lapar. Ada yang terpenjara dalam belitan utang. Kita belum berjamaah. Bagaikan kerumunan manusia menyaksikan kecelakaan. Mereka saling berkomentar, tetapi masing-masing larut mencekam bahkan enggan bertegur sapa, apalagi membelah jiwa mendengar rintihan saudaranya.

Saat ini kulihat rumah-rumah Tuhan hanyalah terminal tempat kita asyik sendiri melepaskan lelah batin, tanpa memberi ruang untuk tegur sapa dan merendanya dalam cinta persaudaraan. Di rumah Tuhan, tidak ada lagi orang yang kehilangan saudaranya, tidak ada tanya kemanakah gerangan si fulan? Memang suara adzan bersahutan dari menara ke menara, tak lupa dilengkapi loudspeaker paling mutakhir, tetapi hanya mampu mengumpulkan jumlah bilangan manusia, tak mampu mengikat hati mereka.

(diambil dari ringkasan  mukaddimah sebuah buku BROTHERHOOD karya KH.toto Tasmara)

Senin, 12 September 2011

subuh on fire

Sebuah Renungan……Sebuah Peringatan……
Mengapa umat Islam mengalami kemunduran?
Mengapa umat Islam justru mengikuti konsep dan gaya hidup orang lain?
Mengapa banyak diantara kita tidak bangga dengan nilai-nilai dalam agama kita sendiri, malah menjadikan musuh-musuh Islam sebagai teladan?
***Tegakkan Islam di dalam dirimu, niscaya Islam akan tegak di muka bumi***

Sebuah omong-kosong besar…..
Membumikan Islam hanya dengan seminar, diskusi, training, ceramah, dst….
Sementara meninggalkan event yang diselenggarakan oleh Allah
Sementara…..

Mereka melalaikan Shalat, terutama Shalat Subuh
Mereka melupakan menegakkan tiangnya
Mereka melupakan diri mereka sendiri

Dari Umamah al-Bahil, dari Rasulullah saw, beliau bersabda:
“Sendi-sendi Islam akan runtuh satu demi satu; setiap kali satu sendi runtuh akan diikuti oleh sendi berikutnya. Sendi Islam yang pertama kali runtuh adalah pemerintahan, dan yang terakhir adalah sholat”.(HR. Ahmad)

Pemimpin Bangsa Yahudi pernah berkata:
“Kami baru akan takut pada umat Islam jika kami menyaksikan mereka shalat subuh seperti halnya shalat Jum’at”

Ada apa dalam Shalat Subuh?
Apa keutamaan shalat Shubuh?
Apa yang akan terjadi kalau kita meninggalkannya?
Ayo buka pikiran kamu……


Ayo Buka Mata Kamu…..

Apakah kamu orang yang sudah nyaman dengan kondisi Islam saat ini?
Apakah kamu cukup nyaman dengan tontonan saat ini?
Apakah kamu sudah cukup nyaman dengan trend teman-teman kamu, yang trend tapi tidak syar’i?
Apakah kamu nyaman melihat umat Islam di Afghanistan, Irak, Palestina, dsb dibantai oleh orang-orang kafir?
Apakah kamu nyaman melihat saudara perempuan kamu yang berjilbab diperkosa dan anak-anak kecil dicincang serdadu biadab?
Kalau jawabanmu “Ya”  Segera tinggalkan Note ini sekarang juga!

Ataukah kamu….

Generasi yang merindukan kejayaan umat Islam
Generasi yang merindukan hukum Syari’at tegak di muka bumi
Generasi yang merindukan kehidupan bermasyarakat yang aman dan memegang teguh nilai-nilai Islami
Apakah kamu ingin menjadi generasi yang kokoh memegang Panji Islam
Pilihanmu tepat berada di Note ini.

Bergeraklah….
Pasti akan ada energi
Pasti akan ada perubahan

Sejarah diukir di atas waktu
Setiap hari ada 30 menit pertama yang akan menentukan hari kamu
Orang budha/ hindu menyebut waktu ini sebagai jam mistis

Ada apa dengan Shalat Shubuh…..
Terbebas dari api neraka
“ Tidak akan masuk neraka orang yang shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam matahari” (HR. Muslim)
Syurga for you
“Barangsiapa yang shalat dua waktu yang dingin, maka akan masuk Syurga” (HR. Bukhori)
Unlimited Reward…..
“Barangsiapa yang shalat Isya berjamaah maka seakan-akan dia telah shalat setengah malam, dan barangsiapa Shalat Shubuh berjama’ah maka seakan-akan dia telah melaksanakan shalat malam satu malam penuh”
(HR. Muslim)
Dari Aisyah ra : Rasulullah Saw bersabda:
“Dua Rakaat fajar (Shalat Sunnah Sebelum Subuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya” (HR. Muslim)
Cahaya di kegelapan
“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yag banyak berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Ada asuransi dari Allah
“Barangsiapa yang menunaikan shalat subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Maka jangan coba-coba membuat Allah membuktikan janjinya. Barangsiapa membunuh orang yang menunaikan shalat subuh, Allah akan menuntutnya sehingga ia akan dibenamkan mukanya ke dalam neraka”. (HR. Muslim, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Disaksikan oleh seluruh malaikat
Dari Abi Hurairah, Rasulullah saw bersabda:
“Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat salah seorang diantara kamu sendirian, berbanding dua puluh lima kali lipat. Malaikat penjaga malam dan siang berkumpul pada waktu subuh”
“ Para malaikat datang bergiliran kepadamu malam dan siang, semuanya bertemu ketika shalat subuh dan shalat ashar. Kemudian malaikat yang jaga malam naik ke langit. Maka bertanyalah Tuhan kepada mereka (padahal Allah sesungguhnya lebih tahu) “Bagaimanakah keadaan hamba-Ku yang kamu tinggalkan?”
Jawab mereka: “Kami tinggalkan mereka sedang shalat subuh dan kami dapati mereka sedang shalat ashar”
Dapat melihat Allah
Dari Jarir ra. Katanya: “Kami bersama-sama dengan Rasulullah saw dan beliau menengok ke bulan, yakni bulan empat belas”
Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu semua akan melihat Allah sebagaimana kamu melihat bulan ini. Kamu tidak akan berdesak-desakkan melihatnya jika kamu tidak pernah kalah mengerjakan shalat subuh sebelum matahari terbit, dan shalat ashar sebelum matahari terbenam. Maka hendaklah kamu laksanakan.”
Kemudian beliau membaca ayat “Dan tasbihlah kamu memuji tuhan sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam”

Rezeki di pagi hari
Rasulullah selalu mengucapkan do’a:
“Ya Allah berkahilah umatku dalam kepergiannya di pagi hari”
Kalau rezeki datangnya pagi-pagi, kenapa juga mesti lembur?
Bikin cerdas
Rasulullah menjadikan shalat subuh sebagai kesempatan menyampaikan pelajaran dan penjelasan tentang berbagai hal.
Nikmati udara yang sejuk

Selalu ada 2 Pilihan…..
• Bangun dengan berdoa
• Berwudlu
• Shalat Subuh berjamaah
• Dzikir
• Tilawah
• Menyusun rencana
Atau…


• Tidur pulas saat adzan Subuh
• Dibangunin sama Ibu sampai dibanyur
• Telat ke sekolah, Buru-buru, lupa sarapan
• Banyak yang ketinggalan

Permasalahan sholat subuh bukan sekadar masalah individu, tapi menjadi masalah sosial, masyarakat, bangsa.
Karena itu perlu dida’wahkan/ dikampanyekan
Sebutkan alasan kenapa kamu sampai meninggalkan shalat subuh/ bangun subuh telat!!
Apakah ini jawaban anda…..?

• Bangun kesiangan?
• Malas/ masih ngantuk?
• Tidur kemaleman?
• Ada aktivitas lain?
Tahukah kamu……

Berbuat maksiat membuat sulit bangun subuh, dan telat bangun subuh membuat pertahanan diri/ control diri kamu longgar
Siapa Kamu, Subuh Menjawabnya…

Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata, Rasulullah telah bersabda :
“Sesungguhnya Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah Shalat Isya dan Shalat Subuh.” (HR. Bukhari Muslim)
Kapan Waktu Shubuh….
Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin al-Ash bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Waktu shalat subuh dari terbit fajar sampai terbit matahari. “(HR. Muslim)
Waktu syurq = kurang lebih 1 jam 20 menit dari adzan subuh
Waktu Shubuh adalah sebagai ujian…..
Shalat subuh adalah shalat yang bilangan rakaatnya paling sedikit tapi menjadi standarisasi keimanan seseorang.

Cara Gampang bangun Shubuh tepat waktu…..

1.Ikhlas
2.Tekad yang kuat
3.Hindari dosa
4.Berdo’a
5.Berteman dengan orang shalih
6.Perhatikan waktu dan cara tidur
7.Bikin pamflet tentang keutamaan shalat subuh
8.Buat kegaduhan di waktu subuh
9.Kampanyekan shalat subuh
10.Perhatikan makanan
11.Perhatikan tata ruang kamar

Tiba saatnya yang dirindukan…..
Saat semua orang bergegas melaksanakan shalat subuh dengan pemandangan seperti hendak melaksanakan shalat Jum’at.
Saat itulah kemenangan Islam membumi

Namun…..

Saya tidak ingin ibadah shalat subuh berjama’ah hanya menjadi ritualis semata, hanya karena ‘musim’, atau karena ada kewajiban untuk membangunkan
Tapi kadang untuk belajar keikhlasan harus sedikit dipaksakan terlebih dahulu



Senin, 30 Mei 2011

Mutiara 4 kata


Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Dzar Al Ghifari Ra
Abu Dzar,
Benahilah bahtera,
Sebab samudera hidup teramat dalam airnya
Siapkanlah bekal sebanyak-banyaknya

Sebab perjalanan diri masih teramat lama
Ringankanlah beban di pundakmu
Sebab jalan yang engkau tempuh terjal berliku
Dan sucikanlah perbuatanmu
Sebab penyelidik selalu saja mamantaumu

Seorang penyair berkata:
Adalah wajib bagi manusia,
Untuk bertobat dari dosa
Namun ada yang lebih wajib baginya,
Ialah meninggalkan dosa-dosa
Adalah berat bagi setiap insan
Untuk bertabah atas cobaan
Namun jauh lebih memberatkan
Jika ia tak punya pahala di sisi Tuhan
Adalah menakjubkan
Jika seorang hamba berbakti sepanjang hari
Namun lebih menakjubkan
Bila ada seorang abdi lupa diri
Adalah teramat dekat
Sesuatu yang akan terjadi
Namun jauh lebih dekat
Ajal datangnya mati

Seorang filosuf berkata:
Dari empat hal kebaikan
Muncul darinya empat hal yang lebih baik
Rasa malu bagi laki-laki adalah baik
Namun bagi perempuan, itu lebih baik
Bersikap adil bagi setiap orang adalah baik
Namun bagi penguasa, jauh lebih baik
Tobat oleh orang tua adalah balk
Namun oleh anak muda, jauh lebih baik
Murah hati bagi orang kaya adalah baik
Namun bagi orang miskin tentu lebih baik

Rasul saw. bersabda:
Bintang-gemintang adalah pengaman,
Bagi penduduk di atas awan
Apabila la terpendar murai
Sungguh aku tak tahu apa yang akan terjadi
Ahli baitku adalah penjaga,
bagi seluruh ummat yang ada
Apabila mereka telah tiada, maka hukum Ilahi yang berbicara
Aku adalah pelindung, bagi sahabat-sahabatku kini
Jika nanti aku mait, di situlah hukum
Tuhan menggariskan
Gunung-gunung adalah pengukuh
Bagi penghuni bumi secara utuh
Jika pun nanti ia tercerai-berai
Terserah amar Allah akan menyikapi

Abu Bakar r.a. berkata:
Empat hal akan sempurna
Dengan hadirnya empat perkara
Kesempurnaan shalat dengan sujud sahwi
Kesempurnaan puasa dengan zakati diri
Kesempurnaan haji dengan membayar fidyah
Dan kesempurnaan iman dengan jihad fi sabilillah

Abdullah bin Mubarak berkata;
Hak-hak shalat telah terpenuhi
Apabila seseorang telah menjalani
Dua belas rakaat sunnah dalam sehari
Hak-hak puasa telah terselesaikan
Apabila seseorang telah melaksanakan
tiga hari puasa sunnah dalam sebulan
Hak-hak baca telah terlunasi
Jika seseorang telah mengaji
seratus ayat al-Qur’an dalam sehari
Dan hak-hak sedekah telah tersalurkan
Apabila seseorang telah mendermakan
satu dirham hartanya dalam sepekan


Umar r.a. berkata:
Ada empat macam lautan
Lautan dosa adalah hawa
Lautan syahwat adalah nafsu
Lautan usia adalah kematian
Dan lautan penyesalan adalah kuburan

Utsman r.a. berkata:
Aku dapati manusia berbakti
pada empat intisari berbakti
Menjalani perintah Ilahi
Menjauhi larangan Tuhan Yang Mahatinggi
Amar ma’ruf dan mengharap pahala
Serta nahi munkar dan menghindari murka

Empat keutamaan mengandung kewajiban
Bergaul orang saleh itu utama
Mengikuti jejaknya adalah kewajiban
Membaca al-Qur’an itu mulia
Mengaplikasikannya adalah sebuah keharusan
Ziarah kubur itu utama
Bersiap diri menuju ke sana adalah kewajiban
Menengok orang sakit itu mulia
Sedang meminta wasiat adalah keharusan

Apabila seseorang merindukan surga
la akan berlari menuju kebaikan
Apabila seseorang takut neraka
Ia tinggalkan segala keinginan
Jika seseorang yakin akan kematian
Musnahlah darinya rasa kenikmatan
Dan jika seseorang kenal betul akan dunia
Musibah baginya bukanlah suatu persoalan

Rasul saw. bersabda:
Shalat adalah tiang agama
Amal sedekah padamkan murka
Puasa membuat selamat dari neraka
Dan jihad merupakan geraham agama

Allah swt, berfirman kepada seorang Nabi:
Diammu dari kebatilan
adalah puasa bagi-Ku
Menjaga anggota tubuhmu dari larangan
adalah shalat bagi-Ku
Kau pangkas tamakmu dari sesama insan
adalah sedekah bagi-Ku
Dan kau sirnakan bahaya dari manusia
adalah Jihad bagi-Ku

Abdullah bin Mas`ud r.a. berkata:
Penyebab hati menjadi mati
Adalah terlalu banyak makan
Berteman dengan orang zalim dan ikut haluannya
Melupakan dosa-doa yang pernah dilakukan
Dan menumpuk tinggi angan-angan
Sedang penerang hati
Adalah makan sekadarnya
Berteman dengan orang-orang saleh dan mengikutinya
Ingat dosa yang pernah dilakukannya
Dan membangun harapan sesuai kemampuan

Hatim al-Asham berkata:
Adalah dusta
Orang yang mengaku cinta Allah
Tapi tak pernah peduli akan larangan-Nya
Orang yang mengaku cinta Rasul
Taip menelantarkan fakir miskin di sekitarnya
Orang yang mengaku takut neraka
Namun tak indahkan dosa-dosa
Dan orang yang mengaku cinta surga
Namun tak mau mendermakan hartanya

Rasulullah saw. bersabda:
Tanda-tanda orang celaka adalah
Lupa dosa masa lampau
Padahal Allah mencatatnya
Ingat kebaikannya yang telah lalu
Padahal belum tentu diterima
Dalam hal duniawi
Memandang orang yang setingkat di atasnya
Dan dalam hal ukhrawi
Memandang orang yang sederajat di bawahnya
Sedangkan tanda-tanda orang bahagia
Adalah ingat kesalahan yang dilakukan
Tidak mengagungkan kebaikan yang diamalkan
Dalam hal duniawi
Melihat betapa banyak orang yang di bawahnya
Dalam hal ukhrawi
Melihat betapa amal baktinya belum seberapa

Seorang filosuf berkata:
Empat panji-panji iman adalah
Takwa, rasa malu, syukur dan sabar

Senin, 23 Mei 2011

MENCINTAI DALAM HENING


Duhai gadis, maukah ku beritahukan padamu bagaimana mencintai dengan indah ?
Inginkah ku bisikkan bagaimana mencintai dengan syahdu..?
Maka dengarlah…!



Gadis, Saat ku jatuh cinta..
Tak akan ku berucap..
Tak akan ku berkata..
Namun ku hanya akan diam..


Saat ku mencintai, takkan pernah ku menyatakan.
Tak akan ku menggoreskan..
Yang ku lakukan hanyalah diam..


Aku tahu, cinta adalah fitrah..sebuah anugrah tak terperih..
Karena cinta adalah kehidupan.
Karena rasa itu adalah cahaya.
Aku tahu, hidup tanpa cinta, bagaikan hidup dalam gelap gulita..
Namun.. Saat rasa itu menyapa, maka hadapi dgn anggun.
Karena rasa itu ibarat belenggu pelangi, dengan begitu banyak warna.
Cinta terkadang membuatmu bahagia, namun tak jarang membuatmu menderita.
Cinta ada kalanya manis bagaikan gula,
Namun juga mampu memberi pahit yang sangat getir.
Cinta adalah perangkap rasa..
Sekali kau salah berlaku, maka kau akan terkungkung dalam waktu yang lama dalam lingkaran derita.

Kasihku … , Agar kau dapat keluar dari belenggu itu.
Dan mampu melaluinya dgn anggun..
Maka mencintailah dalam hening.
Dalam diam..
Tak perlu kau lari, tak perlu kau hindari.
Namun juga, jangan kau sikapi dgn berlebihan.
Jangan kau umbar rasamu.
Jangan kau tumpahkan segala sukamu..


Cobalah merenung sejenak dan fikirkan dgn tenang..
Kita percaya takdir bukan?
Kita tahu dengan sangat jelas...
Dia, Allah telah mengatur segalanya dengan begitu rapinya?
Jadi, apa yang kau risaukan?
Biarkan Allah yg mengaturnya,
Dan yakinlah di tangan-Nya semua akan baik-baik saja..


Cobalah renungkan...
Dia yang kau cinta, belum tentu atau mungkin tak akan pernah menjadi milikmu..
Dia yang kau puja, yang kau ingat saat siang dan yang kau tangisi ketika malam,
Akankah dia yang telah Allah takdirkan denganmu?

Kasihku… , kita tak tahu dan tak akan pernah tahu..
Hingga saatnya tiba..
Maka, ku ingatkan padamu, tidakkah kau malu jika smua rasa telah kau umbar...
Namun ternyata kelak bukan kau yg dia pilih untuk mendampingi hidupnya?
Kasihku…, Karena cinta kita begitu agung untuk di umbar..
Begitu mulia untuk di tampakkan..
Begitu sakral untuk di tumpahkan..


Dan sadarilah gadis, fitrah kita wanita adalah pemalu,
Dan kau indah karena sifat malumu..
Lalu, masihkah kau tampak menawan jika rasa malu itu telah di nafikan?
Masihkah kau tampak bestari jika malu itu telah kau singkap..
Duhai gadis, jadikan malu sebagai selendangmu..
Maka tawan hatimu sendiri dalam sangkar keimanan..
Dalam jeruji kesetiaan..
Yah.. Kesetiaan padanya yg telah Allah tuliskan namamu dan namanya di Lauhul Mahfuzh..
Jauh sebelum bumi dan langit dicipta..


Maka cintailah dlm hening.
Agar jika memang bukan dia yg ditakdirkan untukmu,
Maka cukuplah Allah dan kau yg tahu segala rasamu..
Agar kesucianmu tetap terjaga..
Agar keanggunanmu tetap terbias..


Maka, ku beritahukan padamu,
Pegang kendali hatimu..Jangan kau lepaskan.
Acuhkan semua godaan yg menghampirimu..
Cinta bukan untuk kau hancurkan, bukan untuk kau musnahkan..
Namun cinta hanya butuh kau kendalikan, hanya cukup kau arahkan..


Gadis... yg kau butuhkan hanya waktu, sabar dan percaya..
Maka, peganglah kendali hatimu,
Lalu..Arahkan pd Nya..
Dan cintailah dalam diam..
Dalam hening..
Itu jauh lebih indah..

Jauh lebih suci…

Islam...I'm In Love...




Salman al-Farisi demi cintanya kepada kebenaran. Ia rela mencari agama yang sanggup mencerahkan pikiran dan mengobati kegundahan jiwanya.

From Persia With Love. Boleh dibilang Salman al-Farisi begitu. Sebab, dengan cinta di dada untuk mencari kebenaran, beliau rela jauh-jauh dari Persia berkelana sampe terdampar di Madinah. Bertemu Rasul dan masuk Islam. Kecintaannya kepada Islam mengalahkan kepercayaannya sebagai kaum penyembah api dan manusia.
Yes, Salman meninggalkan agama Majusi dan Nashrani.

Anda tahu Mush'ab bin ‘Umair? Duh, sahabat Rasulullah saw. yang satu ini ridho meninggalkan istana megahnya demi cinta kepada Islam. Rela mencampakkan pakaian indah dan gelimang harta. Islam, mampu menenggelamkan segala kenikmatan dunia lainnya.

Mush'ab bin ‘Umair adalah orang pertama yang diutus Rasulullah saw. untuk membacakan al-Quran, mengajarkan Islam, dan memberi pemahaman agama kepada masyarakat Madinah. Mush'ab menemani 12 orang laki-laki Madinah setelah Bai'at ‘Aqabah pertama.

Alhamdulillah, Islam kemudian tersebar cepat di Madinah hanya dalam kurun waktu tiga tahun, hingga membuat Rasulullah saw. gembira dan memikirkan untuk hijrah ke sana sekaligus menerapkan Islam sebagai ideologi negara. Subhanallah...

Begitulah jika cinta sudah terpatri kuat di hati. Islam memang layak kita cintai, kita bela, dan kita perjuangkan. Drama kehidupan bersama Islam yang dimainkan para sahabat Rasulullah saw. dalam membela Allah, Rasul-Nya, dan tentunya juga Islam sungguh sangat mengagumkan.

Suatu ketika Zaid bin Datsinah bersama lima sahabat lainya diutus Rasulullah menemani sekelompok kecil kabilah untuk mengajarkan Islam ke kabilah yang bertetangga dengan Bani Hudzail tersebut. Waktu itu, negara Islam sudah berdiri. Kejadiannya pasca Perang Uhud.

Sayangnya, enam utusan Rasulullah saw. itu dikhianati. Tiga di antaranya syahid. Tiga lagi menjadi tawanan dan dijadikan budak untuk dijual (termasuk Zaid bin Datsinah). Waktu itu, Zaid hendak dibeli oleh Shafwan bin Umayyah, untuk kemudian dibunuh sebagai balasan atas kematian ayahnya, Umayyah bin Khalaf, yang tewas di tangan kaum Muslimin saat Perang Badar.

Zaid ditanya oleh Abu Sufyan: “Hai Zaid, aku telah mengadukanmu kepada Allah. Sekarang, apakah engkau senang Muhammad berada ditangan kami menggantikan tempatmu, lalu engkau memenggal lehernya dan engkau kembali kepada keluargamu?”. “Demi Allah!” jawab Zaid lantang, “Aku tidak rela Muhammad menempati suatu tempat yang akan dihantam jerat yang menyiksanya, sementara aku duduk-duduk dengan keluargaku.”

Abu Sufyan sangat terkesan dengan kata-kata Zaid. Bibirnya menyungingkan senyuman sinis sambil berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang mencintai sahabatnya seperti kecintaan sahabat-sahabat Muhammad,” kata Abu Sufyan geram ditengah kekagumannya. Kemudian, Zaid pun dibunuh.

Subhanallah, ini memang bukan cinta biasa. Membela dan memperjuangkan Islam, sebagai bentuk kecintaan kepada agama Allah ini, membuat Khubaib, temannya Zaid yang juga diutus Rasulullah dalam misi tersebut, rela melepaskan nyawanya. Sebelum syahid, beliau memandang musuh-musuh Allah dengan marah sambil meneriakkan doa:

“Ya Allah, sesungguhnya telah sampai kepada kami risalah Rasul-Mu, maka besok sampaikan kepadanya apa yang membuat kami demikian. Ya Allah, hitunglah (bilangan) mereka (dan lemparkan mereka) berkali-kali, bunuhlah mereka dengan sekali lumat, dan janganlah Engkau biarkan mereka hidup seorang pun dari mereka!”
Mendengar teriakan Khubaib, mereka menjadi gemetar. Dengung suara itu seolah merobek-robek nyawa mereka. Kemudian, Khubaib pun dibunuh.
                                                

Lalu bagimana dengan Rasul SAW?
Aisyah ra. bercerita tentang Rasulullah saw. setelah didesak oleh Abdullah bin Umar. Apa yang diceritakan Ummul Mukminin Aisyah ra? Beliau menceritakan sepotong kisah bersama Rasulullah saw.    ( Tafsir Ibnu Katsir, I: 1441 )

“Pada suatu malam, ketika dia tidur bersamaku dan kulitnya sudah bersentuhan dengan kulitku, dia berkata, “Ya, Aisyah, izinkan aku beribadah kepada Rabbku.” Aku berkata, “Aku sesungguhnya senang merapat denganmu, tetapi aku senang melihatmu beribadah kepada Rabbmu.”Dia bangkit mengambil gharaba air, lalu berwudhu. Ketika berdiri shalat, kudengar dia terisak-isak menangis. Kemudian dia duduk membaca al-Quran, juga sambil menangis sehingga air matanya membasahi janggutnya, ketika dia berbaring, air matanya mengalir lewat pipinya mambasahi bumi di bawahnya. Pada waktu fajar, Bilal datang dan masih melihat Nabi saw. menangis,”Mengapa Anda menangis, padahal Allah ampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang kemudian?” tanya Bilal. “Bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur. Aku menangis karena malam tadi turun ayat Ali Imran 190-191. Celakalah orang yang membaca ayat ini dan tidak memikirkannya.”

Demi cintanya kepada Allah, dan juga agama ini, Rasulullah saw. sanggup mengesampingkan kenikmatan-kenikmatan lainnya. Subhanallah . Sekali lagi, ini bukan cinta biasa! Islam..... I’m in Love