Kamis, 08 Desember 2011

Allah Yang Slalu Ada

ketika kita sedang bersedih
Allah datang dengan membawa kebahagiaan

ketika kita kesepian karna semua teman sibuk dengan urusannya
Allah hadir sebagai teman kehampaan

ketika kita sedang berputus asa dengan hasil usaha kita
Allah tak pernah berhenti dalm memberikan semangat berupa Rahmat-Nya

ketika kita merasa lelah dalam pekerjaan kita
Allah lah tempat peristirahatan dalam shalat kita

ketika kita menangiskarna bencana yang menimpa kita
Allah lah yang menghapus dosa2 dengan tetes air mata kita

ketika kita melihat jalan kebahagiaan
Allah sedang berbisik kepada kita

ketika kita tak berdaya dihadapan manusia
Allah datang sebagai pelidung kita

Allah tak pernah alfa dalm mengawasi kita
tapi kitalah yang selalu menghindar dari-Nya

Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita
tapi kita tak mengerti ucapan rasa syukur dan terimakasih

Allah selalu melindungi dan menyayangi kita
tapi kita selalu menyalahi-Nya

Allah mencintai kita melebihi cinta seorang ayah kepada anaknya
tapi kita selalu menduakan cinta-Nya

Allah memiliki banyak orang seperti kita tapi Dia menyayangi kita seolah hanya memiliki kita seorang
tapi,kita tidak memiliki tuhan seperti Dia dan seakan akan kita memiliki banyak tuhan untuk dicintai..

akankah kita akan terus seperti ini??
akankah kita masih memiliki rasa malu terhadap-Nya??

Ikhwan Indonesia VS Mujahid Palestina

ketika api menyulutkan jiwa yang lemah
maka jiwa itu akan hancur bagaikan debu
ketika api menyulutkan jiwa yang kuat,
maka jiwa itu akan menjadi semakin tangguh bagaikan intan permata

ketika seorang ikhwan sibuk dengan menghafal surah Arrahman sebagai persiapan ajang mengkhitbah seorang akhwat
ketika itu disana para mujahid sibuk dengan menghafal surah Alanfal untuk mempersiapkan pernikahannya dengan bidadari syurga

ketika para ikhwan sibuk dalam pencarian dan pengharapan tulang rusuk dalam doanya
ketika itu disana para mujahid sibuk dalam pencarian musuh-musuhnya

ketika para ikhwan sibuk menjelaskan makna jihad
ketika itu disana para mujahid sibuk bertanya-tanya kapan dirinya sebagai syuhadaNya

ketika para ikhwan dan akhwat sibuk dalam pencarian dan penantian yang panjang
ketika itu disana para mujahid dan mujahidah sibuk mendaftarkan dirinya sebagai bom syahid

ketika ikhwan dan akhwat sibuk membicarakan mahar pernikahannya
ketika itu disana para mujahid dan mujahidah menjadikan senjata dan pedangnya sebagai mahar syurganya

ketika para ikhwan dan akhwat selalu mengumandangkan hadist
"nikah itu adalah sunahku" dalam guyonannya
ketika itu disana para mujahid dan mujahidah selalu mengumandangkan hadist
"hidup mulia atau mati sebagai syuhada" dalam langkahnya

engkau lihat ketika dunia melihat senyuman kematian harumnya darah  para syuhada,,dunia bergetar karna kekaguman dan kebenaran akan janjinya
tapi engkau lihat ketika dunia melihat kematian org2 musyik yang terkena musibah mereka hanya bisa menangis,menangis karna mereka semua telah mendapatkan azab dunia dan akhirat

"mereka hanya mengetahui yang lahir(tampak) dari kehidupan dunia,sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka lalai"

ketika para ikhwan membicarakan tentang keindahan syurga
sedangkan para mujahid sana telah mendapatkan tempat tinggalnya disana

ketika ikhwan dan akhwat ingin membantu palestina
tapi realitas mengatakan siapa sebenarnya yang harus dibantu??
negri kecil yang penuh dengan mujahid dan mujahid yang pemberani
ataukah negri besar yang penuh dengan orang-orang yang kerdil dan pengecut

dan kita mengatakan bahwa palestina adalah negri yang kecil dan miskin??
dan mereka mengatakan indonesia adalah negri yang kaya dan besar??
namun palestina adalah negri yang kaya akan iman dan keridhoan Allah
dan indonesia adalah negri yang miskin iman dan keridhaan-Nya

"sekiranya penduduk negri itu beriman niscata kami turunkan keberkahan dari langit dan bumi"

Komentar Musuh Islam Terhadap Karater Mujahid

Ketika Heraklius (Kaisar Romawi) akan berangkat ke Konstantinopel,
tiba-tiba ia disusul seorang laki-laki Romawi yang pernah ditawan pasukan Islam.
“Ceritakan kepada tentang orang-orang Islam!” pinta Heraklius.
“Aku akan menceritakan mereka untuk Anda seolah-olah Anda melihatnya sendiri,” jawab lelaki itu.
“Mereka adalah prajurit berkuda di siang hari dan rahib dimalam hari.
Mereka tidak makan dari orang-orang kafir dzimmi kecuali dengan harga (membelinya).
Mereka tidak masuk rumah kecuali dengan salam. Mereka akan melawan orang yang menyerang mereka hingga mereka berhasil mengalahkannya!”
“Jika kamu berkata benar kepadak, ” ujar Heraklius, “maka mereka benar-benar akan menguasai yang diinjak oleh kedua kakiku ini!”

(Kisah ini disebutkan Syaikh Muhammad Yususf al Kandahlawi dalam Hayah ash-Shahabah, III / 697-698 yang dia nukil dari Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tarikhnya)


Yazdajir (Raja Persia) mengirim surat kepada
Raja China untuk meminta bantuan

Raja China itu berkata kepada utusan Yazdajir,
“Aku tahu bahwa Raja harus menolong Raja lainnya untuk melawan orang-orang yang mengalahkannya.
Ceritakanlah kepadaku ciri-ciri orang-orang yang telah mengusir kalin dari negeri kalian.
Aku telah mendengar kalian mengatakan bahwa jumlah mereka sedikit sedangkan jumlah kalian banyak.
Dan orang-orang yang sedikit itu tentu tidak akan mampu mengalahkan kalian yang banyak kecuali karena kebaikan yang mereka miliki dan keburukan yang kalian punyai.
 Utusan itu mengatakan, “Tanyalah apa yang ingin anda tanyakan.”
Raja China bertanya, “Apakah mereka menepati janji?”
Utusan Yazdajir menjawab, “Ya.”
“Apa yang mereka katakan kepada kalian sebelum mereka memerangi kalian?”
“Mereka menyeru kami kepada salah satu dari tiga hal : masuk agama mereka (jika mengiyakannya mereka memberlakukan kami seperti mereka), membayar Jizyah, atau perang .”
“Bagaimana kepatuhan mereka kepada para pemimpinnya?”
“Mereka adalah kelompok prajurit yang paling patuh pada pemimpin mereka.” Kemudian raja China itu menulis surat kepada Yazdajir,
“Aku tidak mengirimkan pasukan kepadamu, karena utusanmu telah menceritakan ciri-ciri orang-orang yang mengalahkan kalian kepadaku, kalau mereka menginginkan merobohkan gunung, pasti mereka akan berhasil. Dan kalau mereka datang ketempatku pasti mereka akan berhasil melengserkanku, selama mereka masih tetap seperti apa yang diucapkan oleh utusanmu. Berdamailah dengan mereka, bayarlah upeti kepada mereka, dan jangan ganggu mereka selagi mereka tidak mengganggumu!

(Kisah ini disebutkan Syaikh Muhammad Yususf al Kandahlawi dalam Hayah ash-Shahabah, III / 697-698 yang dia nukil dari Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tarikhnya)

Jalan Cinta Seorang Pejuang

Tulisan ini diambil dari salah satu bagian di dalam buku karangan Salim Akhukum Fillah, Sang Mujahid Pena asal Yogyakarta, sahabat dekat Mahasiswa Berprestasi UI (2006) & Nasional Shofwan Al-Banna Choiruzzadd.

Bagi saya, kisah ini ibarat air hujan di tengah musim kemarau yang menghidupkan kembali benih-benih kesungguhan untuk mempersembahkan cinta yang suci bagi calon bidadari yang akan menjadi pendampingku nanti. Ya, seperti cintanya Ali kepada Fatimah yang dikisahkan dengan sangat indah oleh Salim A. Fillah ini…
Berikut kisahnya…
kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah,
maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNya,
pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki:
selamanya memberi yang bisa kita berikan,
selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.
-M. Anis Matta-

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Ia tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan.

Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan;
Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu. ”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi?

Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi.
Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya...

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr: ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..

Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud..

Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.” Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan. Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak.

Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya?
Siapayang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin?

Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi,dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”

’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan. Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi...”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!” ’Ali pun menghadap Sang Nabi.

Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya dibatas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untukmenjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!” Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, danFathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”
Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.

Di jalan cinta para pejuang,
kita belajar untuk bertanggungjawab atas setiap perasaan kita... Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan...
Bahwa suatu hari (setelah mereka menikah)...
Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu.”
Kisah ini disampaikan disini, bukan untuk membuat kita menjadi mendayu-dayu atau romantis-romantis-an...

Kisah ini disampaikan agar kita bisa belajar lebih jauh dari ‘Ali dan Fathimah bahwa ternyata keduanya telah memiliki perasaan yang sama semenjak mereka belum menikah tetapi dengan rapat keduanya menjaga perasaan itu.


Perasaan yang insyaAllah akan indah ketika waktunya tiba...