Senin, 17 Oktober 2011

Adiku Annisa

Saya ingin bercerita mengenai kisah adik saya, Nur Annisa, seorang gadis yang baru menginjak dewasa tetapi agak kasar dan suka berkelakuan seperti lelaki. Ketika usianya mencecah 17 tahun, perkembangan tingkah lakunya benar-benar membimbangkan ibu. Dia sering membawa teman-teman lelakinya pulang ke rumah.

Situasi ini menyebabkan ibu tidak senang tambahan pula ibu merupakan guru Al_Quran. Bagi mengelakkan pergaulan yang terlalu bebas, ibu telah meminta adik memakai tudung. Permintaan ibu itu ditolaknya sehingga seringkali berlaku pertengkaran-pertengkaran kecil antara mereka.

Pernah pada suatu masa, adik berkata dengan suara yang agak keras,
"Coba mama lihat, tetangga-tetangga kita pun ada yang anaknya pakai jilbab, tapi perangainya sama seperti orang yang tak pakai jilbab. Sampai kawan-kawan ani dekat sekolah, yang pakai jilbab pun selalu pergi-pergian dengan om-om, pegang-pegang tangan. Ani ni, walaupun tak pakai jilbab, tak pernah berbuat kayak gituan!"
Ibu hanya mampu mengelus dada mendengar kata-kata adik. Kadang kala saya terlihat ibu menangis di akhir malam. Dalam qiamullailnya. Terdengar lirih doanya " Ya Allah, kenalkan ani dengan hukum-hakam-Mu".

Pada satu hari ada tetangga yang baru pindah berdekatan dengan rumah kami. Sebuah keluarga yang mempunyai enam orang anak yang masih kecil. Suaminya bernama Abu khoiri,(nama sebenarnya siapa, tak dapat dipastikan). Saya mengenalinya sewaktu di masjid. Setelah beberapa lama mereka tinggal berhampiran rumah kami, timbul desas desus mengenai isteri Abu Khoiri yang tidak pernah keluar rumah, hingga ada yang menggelarnya si buta, bisu dan tuli. hal ini telah sampai ke pengetahuan adikku. Dia bertanya kepada saya,
"Abang, betul kah orang yang baru pindah itu, isterinya buta, bisu dan tuli?"

Lalu saya menjawab sambil cuek,
"Kalau mau tahu, pergi aja ke rumahnya, tanya sendiri"

Eh bener tuh adik mengambil serius kata-kata saya dan benar-benar pergi ke rumah Abu Khoiri. Sekembalinya dari rumah mereka, saya melihat perubahan yang benar-benar drastis berlaku pada wajah ani. Wajahnya yang tak pernah muram atau lesu menjadi pucat lesu..entah apa yang telah berlaku?
Namun, selang dua hari kemudian, dia minta ibu buatkan jilbab. jilbab yang jatuh ke bawah. Adikku pakai baju panjang.. Lengan panjang pula tuh. Saya sendiri jadi bingung.. Bingung campur syukur kepada Allah SWT kerana saya melihat perubahan yang ajaib.. Ya, saya katakan ajaib kerana dia berubah seratus persen! Tiada lagi anak-anak muda atau teman-teman wanitanya yang datang ke rumah hanya untuk bercakap perkara-perkara yang tidak tentu arah... Saya lihat, dia banyak merenung, banyak baca majalah Islam (biasanya dia suka beli majalah hiburan), dan saya lihat ibadahnya pun melebihi saya sendiri..

Tak ketinggalan tahajudnya, baca Qur'annya, solat sunat nya..dan yang lebih menakjubkan lagi, bila kawan-kawan saya datang, dia menundukkan pandangan.. Subhanallah.....Segala puji bagi Engkau wahai Allah, jerit hati saya..
Tidak lama kemudian, saya mendapat panggilan untuk bekerja di kalimantan, kerja di satu perusahaan minyak CALTEX. Dua bulan saya bekerja di sana, saya mendapat khabar bahawa adik sakit tenat hingga ibu memanggil saya pulang ke rumah ( rumah saya di Madiun). Dalam perjalanan, saya tak henti-henti berdoa kepada Allah SWT agar adikku ani di beri kesembuhan, hanya itu yang mampu saya usahakan.

Ketika saya sampai di rumah..di depan pintu sudah banyak orang..hati berdebar-debar, tak dapat ditahan...saya berlari masuk ke dalam rumah..saya lihat ibu menangis .. saya segera menghampiri ibu lantas memeluknya....dalam isak tangisnya ibu memberitahu, "Dhi, adik bisa mengucapkan kalimat Syahadah diakhir hidupnya".. Air mata ini tak dapat ditahan lagi...

Setelah selesai upacara pengkebumian dan lain-lainnya, saya masuk ke bilik adikku. Saya lihat di atas mejanya terletak sebuah diari. Diari yang selalu adik tulis. Diari tempat adikku menghabiskan waktunya sebelum tidur semasa hayatnya. Kemudian diari itu saya buka sehelai demi sehelai...hingga sampai pada satu halaman yang menguak misteri dan pertanyaan yang selalu timbul di hati ini..
Perubahan yang terjadi ketika adik baru pulang dari rumah Abu khoiri..di situ tertera tanya jawab antara adik dan isteri tetangga kami itu. Butirannya seperti ini:

Soaljawab (saya lihat di lembaran itu terdapat banyak bekas tetesan air mata)

Annisa : (Aku hairan,wajah wanita ini cerah dan bersinar seperti bidadari) Ibu.. wajah ibu sangat muda dan cantik

Isteri tetanggaku : Alhamdulillah ..sesungguhnya kecantikan itu datang dari lubuk hati

Annisa : Tapi ibu kan sudah punya anak enam .. Tapi masih kelihatan cantik

Isteri tetanggaku : Subhanallah..sesungguhnya keindahan itu milik Allah SWT. Dan bila Allah SWT berkehendak.. Siapakah yang bisa menolaknya?

Annisa : Ibu... Selama ini ibu saya selalu menyuruh saya memakai jilbab..tapi saya selalu menolak kerana saya rasa tak ada masalah kalau saya tak pakai jilbab, asalkan saya berkelakuan baik. Saya lihat, banyak wanita yang pakai jilbab tapi kelakuannya melebihi kami yang tak pakai..sampaikan saya tak pernah rasa ingin pakai jilbab..pendapat ibu bagaimana ?
Isteri tetanggaku: Annisa, sesungguhnya Allah SWT menjadikan seluruh tubuh wanita ini perhiasan dari ujung rambut hingga ujung kaki, segala sesuatu dari tubuh kita yang terlihat oleh bukan muhrim kita semuanya akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT nanti, jilbab adalah perlindungan untuk wanita ..

Annisa : Tapi yang saya lihat, banyak wanita berjilbab yang kelakuannya tak baik..

Isteri tetanggaku: jilbab hanyalah kain , tapi hakikat atau makna di sebalik jilbab itu sendiri yang harus kita pahami

Annisa : Apakah hakikat jilbab ?

Isteri tetanggaku : Hakikat jilbab adalah perlindungan zahir batin, lindungi mata kamu dari memandang lelaki yang bukan muhrim kamu, lindungi lidah kamu dari mengumpat orang dan bercakap perkara yang sia sia .. Senantiasalah lazimi lidah dengan zikir kepada Allah SWT, lindungi telinga kamu dari mendengar perkara yang mengundang mudharat baik untuk dirimu maupun masyarakat, lindungi hidungmu dari mencium segala yang berbau busuk, lindungi tangan-tangan kamu dari berbuat sesuatu yang tidak senonoh, lindungi kaki kamu dari melangkah menuju maksiat, lindungi fikiran kamu dari berfikir perkara yang mengundang syaitan untuk memperdayai nafsu kamu, lindungi hati kamu dari sesuatu selain Allah SWT, bila kamu sudah bisa, maka jilbab yang kamu pakai akan menyinari hati kamu.. Itulah hakikat jilbab

Annisa : Ibu, sekarang saya sudah jelas tentang arti jilbab...mudah mudahan saya mampu pakai jilbab. Tapi, bagaimana saya mau melakukannya?

Isteri tetanggaku: Duhai Nisa, bila kamu memakai jilbab, itulah kurniaan dan rahmat yang datang dari Allah SWT yang Maha Pemberi Rahmat, bila kamu mensyukuri rahmat itu, kamu akan diberi kekuatan untuk melaksanakan amalan-amalan 'jilbab' hingga mencapai kesempurnaan yang diinginkan Allah SWT.

Duhai Nisa .. Ingatlah akan satu hari dimana seluruh manusia akan dibangkitkan.. Ketika ditiup sangkakala yang kedua, .. pada saat roh-roh manusia seperti anai-anai yang bertebaran dan dikumpulkan dalam satu padang yang tiada batas, yang tanahnya dari logam yang panas, tiada rumput maupun tumbuhan , ketika tujuh matahari didekatkan di atas kepala kita namun keadaan gelap gelita, ketika seluruh manusia ketakutan, ketika ibu tidak mempedulikan anaknya , anak tidak mempedulikan ibunya, sanak-saudara tidak kenal satu sama lain lagi , antara satu sama lain bisa menjadi musuh lantaran satu kebaikan lebih berharga dari segala sesuatu yang ada di alam ini, ketika manusia berbaris dengan barisan yang panjang dan masing masing hanya mempedulikan nasib dirinya, dan pada saat itu ada yang berpeluh kerana rasa takut yang luar biasa hingga tenggelam dirinya akibat peluh yang banyak, dan bermacam macam rupa-rupa bentuk manusia yang tergantung amalannya , ada yang melihat ketika hidupnya namun buta ketika dibangkitkan, ada yang berbentuk seperti hewan, ada yang berbentuk seperti syaitan, semuanya menangis..menangis kerana hari itu Allah SWT murka..belum pernah Allah SWT murka sebelum dan sesudah hari itu. Hingga ribuan tahun manusia dibiarkan Allah SWT dipadang mahsyar yang panas membara hinggalah sampai ke Timbangan Mizan. Hari itulah dipanggil hari Hisab..
Duhai Annisa, bila kita tidak berusaha untuk beramal pada hari ini, entah dengan apa nanti kita akan menjawab bila kita di tanya oleh Yang Maha Perkasa, Yang Maha Besar , Yang Maha Kuat , Yang Maha Agung. . . . . Allah SWT .
Sampai di sini saja kisah itu saya baca karena di sini tulisannya terhenti dan saya lihat banyak tetesan ai mata yang jatuh dari pelupuk matanya..

SubhanAllah Saya buka halaman berikutnya dan saya lihat tertera tulisan kecil dibawah tulisan itu "buta , tuli dan bisu.. wanita yang tidak pernah melihat lelaki selain muhrimnya , wanita yang tidak pernah mau mendengar perkara yang dapat mengundang murka Allah SWT , wanita tidak pernah berbicara ghibah dan segala sesuatu yang mengundang dosa dan sia sia"
Tak tahan airmata ini pun jatuh.semoga Allah SWT menerima adikku disisinya..Amin

Subhanallah ..saya harap cerita ini bisa menjadi iktibar bagi kita semua. Wassalam...
--------
Pengirim : Cecep Suwarno

kegundahan dan pengharapan

Malam ini mata tak mau terpejam juga. Keletihan sehari beraktivitas, tak jua membuat mata menjadi lelah. Bukan,……bukan mata yang menjadi lelah, tapi “HATI”.

        Diusia yang seharusnya sudah berpikir masa depan, diri masih bergulat saja dengan keinginan yang tak berujung tak berpangkal. Segala urusan duniawi seakan mengalahkan keinginan untuk lebih mendekat kepada Yang Maha Suci.

Ibadah sunah sudah semakin jarang dijamah, ibadah fardhu sekedar menggugurkan kewajiban yang di emban. Hidup terasa semakin kosong.

“Ya, Allah tunjukkan aku kembali kejalanMu, jalan yang penuh dengan ketenangan dan kelembutanMu”
“Berdzikir aku, diiringi rinai gerimis menjelang pagi. Kuadukan semua masalah hidup, kepada sang Pemberi Hidup (Ya, Almuhyii), kepada sang Pemberi Kemuliaan  (Ya, Al Mu’izzu), kepadaMu yang Maha Pemberi Rezeki (Ya, Ar Razzaaqu)'"


Dalam sekejap segala kegundahan larung bersama air mata yang terurai. Diatas sajadah ini, di dalam tahajudku, di dalam sujudku,…. kudapatkan kedamaian.

Hambamu yang marasa sederhana, kini merasa kaya akan karuniaMu. Hambamu yang merasa fana, kini merasa berhias mutiara kasihMu. Hambamu yang dhuafa, Kini merasa penuh dengan rahmatMu.


Tuhan betapa aku malu atas semua yang Kau beri

padahal diriku terlalu sering membuatMU kecewa
entah mungkin karna ku terlena
sementara Engkau beri aku kesempatan berulang kali agar aku kembali

dalam fitrahku sebagai manusia untuk menghambakanMU
betapa tak ada apa-apanya aku dihadapanMU

aku ingin mencintaiMU
setulusnya,sebenar-benar aku cinta
dalam do’a dalam ucapan dalam setiap langkahku
aku ingin mendekatiMU selamanya
sehina apapun diriku
kuberharap untuk bertemu denganMU ya Rabbi.....

Ketika kulipat sajadah sehabis shalat Shubuh. Semangat untuk berjihad semakin menggebu. Sebuah rahasiaMu telah terkuak di pagi ini.

Adik Kecil

Adik kecil..
kenapa kau bermain2 dg batu itu
permainan apakah yg kau mainkan
kau berlari2,bersembunyi dg sahabat2mu..

Adik kecil...
bisakah kau ajarkan kk tuk bermain dg batu itu
bersamamu,bersma teman2ku..
kau sangat bersemangat tak kenal lelah

Adik kecil...
Aku lihat kau berlumuran darah
dan kau anggap sebagai darah suci
sebuah darah merah penuh amarah
darah pengorbanan,darah kehormatan,dan darah harga diri

Wahai Adik kecil
rasa takut seakan pergi bersama lemparan batumu
rasa lelalh seolah mencair bersama tetesan darahmu
rasa lapar tergantikan dengan semangat juangmu

Anak kecil..
ajarkan aku tuk melupakan rasa itu
bom2 mortir kau anggap sbg kewajaran
dentuman peluru kau jadikan permainan
ayah ibumukah yg mengajari itu semua
melawan tiran berjiwa binatang

wahai adik kecil
malam2mu hanya beralaskan tikar usang
kecil,tipis bagaikan kulit bawang
selimutmi berhiaskan bintang2
keheningan sulit diharapkan

Wahai adik kecil...
ijinkan kk bermalam bersamamu
shalat tahajud bersama teman2mu
bercerita,berdoa,becanda dan tertawa
berangkulan dlm cinta seorg kaka

wahai adik kecil...
aku ingin bersama dlm langkahmu
pengobar semangat mengusir manusia binatang
bergotong royong mengangkatmu yg tumbang
jadikan kaka sbg sahabat juang..

Wahai Anak kecil..
barkan aku mengusap airmatamu
mengobati luka2mu
menyuapi makananmu
layaknya seorg ayah kepada anaknya..

Adik kecil..
maafkan kaka,sahabat dan ayahmu
blm bisa terbang kenegrimu
tuk melindungi sayap2mu
hanya doa yg terlimpah untukmu

wahai adik kecil..
aku tak tau siapa yg beruntung diantara kita
kau mungkin iri dgku berada dinegeri yg damai
kau hanya mengetahui hakikat lahirku saja
hidup dlm damai,tenang dan sejahtera
apakah kau tahu hakikat terdalamku
kegoncangan,kebimbangan akan hadir disisimu

Adik kecil..
Aku takut dg imanku
dg ilmu dan amalku
yg tak berarti dg titisan darahmu

wahai adik kecil..
Bersabarlah tuk mendapatjkan keridhaan Allah
bersyukurlah dgn karunia Allah
kau terlahir dinegeri pejuang
hidup sbg pejuang
mati sbg syuhada
syurga sbg buah pengorbanan

Mana Bukti Persaudaraanmu

Ingin kusampaikan kerinduan yang terus menderu dan memburu akan nilai persaudaraan ukhuwah islamiyah.
Kerinduanku sungguh tak terperi menunggu manusia pilihan yang mampu mengikat jiwa yang bergetar mendambakan persatuan umat, ittihadul ummah.

Kerinduanku terus mengetuk diri yang dahaganya belum terpuaskan untuk mereguk dan menebar benih cinta di antara kita. Jiwaku bagaikan tersayat setiap saat melihat kehidupan.
Akhlak dan nilai persaudaraan telah menjadi arsip kuno yang kusam, bahkan tak segan diremas dan dicampakkan. Wajah-wajah welas asih telah berubah mewujudkan dirinya dalam amarah dan keserakahan

Memang, sesekali kudengar nyanyian merdu tentang kesederhanaan dan persaudaraan, tetapi berulang kali kusaksikan orang-orang yang jiwanya terpenjara, terperangkap dalam perburuan kemewahan seraya menebar racun perseteruan. Ukuran persaudaraan adalah kekayaan, sedangkan akhlaqul karimah telah tersingkir bagaikan batu penghalang mencapai keberhasilan. Ingin kusampaikan kepadamu bila persaudaraan memanggilmu, ikutilah dengan rasa rindu. Walau dalam perjalanan harus melintasi batu-batu duka yang membuta jiwa, didera deru derita sekalipun! Karena rintihanmu yang penuh duka akan berujung pada kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Bila persaudaraan memelukmu, pasrahkan dirimu kepadanya walau engkau tak mendapatkan harta dan pujian. Bagaikan lilin, kaku tebarkan cahaya, walau tubuhnya hancur tak berbentuk. Persaudaraan sejati bagaikan kaum Anshar yang rela mendahulukan kebahagiaan bagi saudaranya, kaum Muhajirin. Karena bagi perindu Illahi, bukan dunia tempat pemberhentiannya. Bagi pencari cinta, justru dalam persaudaraan itu ia dapatkan wewangiannya.
Bagaikan lebah yang berjumpa dengan bunga merekah. Mereka saling memberi. Lebah yang rendah hati tak akan mematahkan ranting yang dihinggapinya. Sang bunga rela melepaskan putik sarinya karena dengan memberi, ia akan menunggu ranumnya bebuahan. Sang lebah membalasnya dengan madu yang menambah hidup semakin berwarna.Belajarlah dari mereka tentang makna persaudaraan.

Cinta sejati bukanlah ingin mengambil, tetapi bahagia berbagi dan memberi. Bila kau berhitung mengambil keuntungan dari persaudaraanmu engkau sedang berdagang dengan menampakkan wajah yang memelas dan sapaan yang sopan. Sebuah kepura-puraan yang sejati. Bila tak diperoleh keuntungan dari pertemuan itu, kau palingkan mukamu dan kau anggap pertemuanmu itu sia-sia. Jiwamu sungguh dangkal dan kering. Menganggap persaudaraan sebagai komoditas, barang dagangan!
Tidak! Persaudaraan sejati tidak dapat diukur dengan seberapa banyak kau mendapatkan, tetapi berapa banyak engkau memberikan! 
Kemudian, kulihat mesjid-mesjid dibangun saling berdekatan. Kusaksikan pada pemuda yang mukhlis menjajakan kotak-kotak derma untuk membangun rumah Tuhan, tetapi dengan hati yang pedih, kusaksikan mesjid yang kehilangan ruh. Bagaikan kuburan cina, indah dan mahal bangunannya, luas tanahnya, tetapi sepi dan mencengkam ketika malam hari mendekapinya. Di rumah Tuhan, tidak kudapatkan lagi kehangatan akhlaq, manisnya persaudaraan dan membaranya api jihad.

Syukurlah di hari Jum’at, rumah Tuhan sesak pengunjungnya, tetapi sekedar gerak kompak dalam shalat, sabar menahan kantuk dibelai khotbah. Setelah bubar dan masing-masing diantara kita kembali menjadi orang-orang asing, tak lagi peduli siapa jamaah disebelahnya. Padahal diantara mereka ada sepenggal hati yang guncang. Ada perut yang perih menahan lapar. Ada yang terpenjara dalam belitan utang. Kita belum berjamaah. Bagaikan kerumunan manusia menyaksikan kecelakaan. Mereka saling berkomentar, tetapi masing-masing larut mencekam bahkan enggan bertegur sapa, apalagi membelah jiwa mendengar rintihan saudaranya.

Saat ini kulihat rumah-rumah Tuhan hanyalah terminal tempat kita asyik sendiri melepaskan lelah batin, tanpa memberi ruang untuk tegur sapa dan merendanya dalam cinta persaudaraan. Di rumah Tuhan, tidak ada lagi orang yang kehilangan saudaranya, tidak ada tanya kemanakah gerangan si fulan? Memang suara adzan bersahutan dari menara ke menara, tak lupa dilengkapi loudspeaker paling mutakhir, tetapi hanya mampu mengumpulkan jumlah bilangan manusia, tak mampu mengikat hati mereka.

(diambil dari ringkasan  mukaddimah sebuah buku BROTHERHOOD karya KH.toto Tasmara)