Senin, 28 November 2011

Surat Untuk Calon Istriku

Assalammu’alaikum Wr. Wb….
Apa kabar calon istriku? Hope u well and do take care… Allah selalu bersama kita.
Calon Istriku…
Masihkah menungguku.. .? Hm… menunggu, menanti atau whateverlah yang sejenis dengan itu kata orang membosankan. Benarkah?! Menunggu… hanya sedikit orang yang menganggapnya sebagai hal yang ‘istimewa’. Dan bagiku, menunggu adalah hal istimewa. Karena banyak manfaat yang bisa dikerjakan dan yang diperoleh dari menunggu. Membaca, menulis, diskusi ringan, atau hal lain yang bermanfaat.
Menunggu bisa juga dimanfaatkan untuk mengagungkan- Nya, melihat fenomena kehidupan di sekitar tempat menunggu, atau sekadar merenungi kembali hal yang telah terlewati. Eits, bukan berarti melamun sampai angong alias ngayal dengan pikiran kosong. Karena itu justru berbahaya, bisa mengundang makhluk dari ‘dunia lain’ masuk ke jiwa.
Banyak hal lain yang bisa kau lakukan saat menunggu. Percayalah bahwa tak selamanya sendiri itu perih.
Bahwa di masa penantian, kita sebenarnya bisa lebih produktif. Mumpung waktu kita masih banyak luang. Belum tersita dengan kehidupan rumah tangga. Jadi waktu kita untuk mencerahkan ummat lebih banyak. Karena permasalahan ummat saat ini pun makin banyak.
Karenanya wahai bidadari dunia…
Maklumilah bila sampai saat ini aku belum datang. Bukan ku tak ingin, bukan ku tak mau, bukan ku menunda. Tapi persoalan yang mendera bangsa ini kian banyak dan kian rumit. Begitu banyak anak tak berdosa yang harus menderita karena busung lapar, kurang gizi, lumpuh layuh hingga muntaber. Belum lagi satu per satu kasus korupsi tingkat tinggi yang membuktikan bahwa negeri ini ‘sarang tikus’.
Ditambah lagi bencana demi bencana yang melanda negeri ini. Meski saat ini hidup untuk diri sendiri pun rasanya masih sulit. Namun seperti seorang ustadz pernah mengatakan bahwa hidup untuk orang lain adalah sebuah kemuliaan. Memberi di saat kita sedang sangat kesusahan adalah pemberian terbaik. Bahwa kita belumlah hidup jika kita hanya hidup untuk diri sendiri.
Calon Istriku…
Percayalah padaku aku pun rindu akan hadirmu. Aku akan datang, tapi mungkin tidak sekarang. Karena jalan ini masih panjang. Banyak hal yang menghadang. Hatiku pun melagu dalam nada angan. Seolah sedetik tiada tersisakan. Resah hati tak mampu kuhindarkan. Tentang sekelebat bayang, tentang sepenggal masa depan. Karang asaku tiada ‘ kan terkikis dari panjang jalan perjuangan hanya karena sebuah kegelisahan. Lebih baik mempersiapkan diri sebelum mengambil keputusan. Keputusan besar untuk datang kepadamu.
Calon Istriku…
Jangan menangis, jangan bersedih, hapus keraguan di dalam hatimu. Percayalah padaNYA, Yang Maha Pemberi Cinta, bahwa ini hanya likuan hidup yang pasti berakhir. Yakinlah saat itu pasti ‘ kan tiba.
Tak usah kau risau karena makin memudarnya kecantikanmu. Karena kecantikan hati dan iman yang dicari. Tak usah kau resah karena makin hilangnya aura keindahan luarmu. Karena aura keimananlah yang utama. Itulah auramu yang memancarkan cahaya syurga. Merasuk dan menembus relung jiwa.
Wahai perhiasan terindah…
Hidupmu jangan kau pertaruhkan. Hanya karena kau lelah menunggu. Apalagi hanya demi sebuah pernikahan. Karena pernikahan tak dibangun dalam sesaat, tapi ia bisa hancur dalam sedetik. Seperti Kota Iraq yang dibangun berpuluh tahun, tapi bisa hancur dalam waktu sekian hari.
Jangan pernah merasa, hidup ini tak adil. Kita tak akan pernah bisa mendapatkan semua yang kita inginkan dalam hidup. Pasrahkan inginmu sedalam kalbu pada tahajjud malammu. Bariskan harapmu sepenuh rindumu pada istikharah di shalat malammu. Pulanglah padaNYA, ke dalam pelukanNYA. Jika memang kau tak sempat bertemu diriku, sungguh itu karena dirimu begitu mulia, begitu suci. Dan kau terpilih menjadi ainul mardhiyah di jannahNYA.
Calon Istriku…
Skenario Allah adalah skenario terbaik. Dan itu pula yang telah Ia skenariokan untuk kita. Karena Ia sedang mempersiapkan kita untuk lebih matang merenda hari esok seperti yang kita harapkan nantinya. Untuk membangun kembali peradaban ideal seperti cita kita.
Calon istriku…
Ku tahu kau merinduiku, bersabarlah saat indah ‘ kan menjelang jua. Saat kita akan disatukan dalam ikatan indah pernikahan. Apa kabarkah kau di sana ? Lelahkah kau menungguku berkelana, lelahkah menungguku kau di sana ? Bisa bertahankah kau di sana , tetap bertahanlah kau di sana . Aku akan segera datang, sambutlah dengan senyum manismu. Bila waktu itu telah tiba, kenakanlah mahkota itu, kenakanlah gaun indah itu. Masih banyak yang harus kucari, ‘tuk bahagiakan hidup kita nanti…
Calon istriku…
Malam ini terasa panjang dengan air mata yang mengalir. Hatiku terasa kelu dengan derita yang mendera, kutahan derita malam ini sambil menghitung bintang. Cinta membuat hati terasa terpotong-potong. Jika di sana ada bintang yang menghilang, mataku berpendar mencari bintang yang datang. Bila memang kau pilihkan aku tunggu sampai aku datang.
Ku awali hariku dengan tasbih, tahmid dan shalawat. Dan mendo’akanmu agar kau selalu sehat, bahagia, dan mendapat yang terbaik dari-Nya. Aku tak pernah berharap kau ‘ kan merindukan keberadaanku yang menyedihkan ini. Hanya dengan rasa rinduku padamu, kupertahankan hidup. Maka hanya dengan mengikuti jejak-jejak hatimu, ada arti kutelusuri hidup ini. Mungkin kau tak pernah sadar betapa mudahnya kau ‘tuk dikagumi. Akulah orang yang ‘ kan selalu mengagumi, mengawasimu, menjagamu dan mencintaimu.
Calon Istriku…
Saat ini ku hanya bisa mengagumimu, hanya bisa merindukanmu. Dan tetaplah berharap, terus berharap. Berharap aku ‘ kan segera datang. Jangan pernah berhenti berharap. Karena harapan-harapanlah yang membuat kita tetap hidup.
Bila kau jadi istriku kelak, jangan pernah berhenti memilikiku dan mencintaiku hingga ujung waktu. Tunjukkan padaku kau ‘ kan selalu mencintaiku. Hanya engkau yang aku harap. Telah lama kuharap hadirmu di sini. Meski sulit harus kudapatkan. Jika tidak kudapat di dunia, ‘ kan kukejar sang ainul mardhiyah yang menanti di syurga.
Ku akui cintaku tak hanya hinggap di satu tempat, aku takut mungkin diriku terlalu liar bagimu. Namun sejujurnya, semua itu hanyalah persinggahan egoku, pelarian perasaanku dan sikapmu telah meluluhkan jiwaku. Waktu pun terus berlalu dan aku kian mengerti apa yang akan ku hadapi dan apa yang harus kucari dalam hidup.
Kurangkai sebuah tulisan sederhana ini untuk dirimu yang selalu bijaksana. Aku goreskan syair sederhana ini, untuk dirimu yang selalu mempesona. Memahamiku dan mencintaiku apa adanya. Semoga Allah kekalkan nikmat ini bagiku. Semoga…
Kau terindah di antara bunga yang pernah aku miliki dahulu
Kau teranggun di antara dewi yang pernah aku temui dahulu
Kau berikan tanda penuh arti yang tak bisa aku mengerti
Kau bentangkan jalan penuh duri yang tak bisa aku lewati
Begitu indah kau tercipta bagi Adam
Begitu anggun kau terlahir sebagai Hawa
Kau terindah yang pernah kukagumi meski tak bisa aku miliki
Kau teranggun yang pernah kutemui meski tak bisa aku miliki
(Dewi Khayalan – Daun Band)
Ya Allah… ringankanlah, kerinduan yang mendera. Kupanjatkan sepotong doa setiap waktu, karena keinginan yang menyeruak di dalam diriku.
Ya Allah… ampuni segala kesilafan hamba yang hina ini ringankan langkah kami. Beri kami kekuatan dan kemampuan tuk melengkapkan setengah dien ini, mengikuti sunnah RasulMu jangan biarkan hati-hati kami terus berkelana tak perpenghujung yang hanya sia-sia dengan waktu dan kesempatan yang telah Engkau berikan.
Wassalamu’alaikum.
Penuh Cinta Selalu Untuk Selamanya,

Menanti Sebuah Jawaban

setulusnya aku akan terus menunggu
menanti sebuah jawaban tuk memilikimu
Sepenggal  syair dari band “Padi” di atas melintas manakala aku sedang menunggu sebuah keputusan darimu.
Menanti memang sesuatu hal yang kurang menyenangkan dalam segala situasi dan kondisi. Sebagian besar orang menganggap menanti adalah sesuatu yang amat membosankan dan menjenuhkan. Namun, bagaimanakah apabila kita sedang menanti sebuah jawaban dari seseorang yang dirindukan dan didambakan kehadirannya untuk menjadi pendamping hidup dunia dan akhirat? Oh, semoga penantianku ini dapat mengkokohkan keimananku di dalam sebuah ujian kesabaran.
Berawal dari sebuah skenario yang telah Allah Swt tetapkan dan ridhoi, hingga Allah membukakan pandangan ini kepada sesosok di balik gaun yang melekat dengan baik dan indah itu. Ke-ngeuh-an yang baru kusadari saat itu, tampak melalui keistiqomahanmu serta kesabaranmu yang kulihat hingga saat ini. Berlanjut dengan pertemuan singkat hingga diskusi yang membuatku tahu keteguhan serta ilmumu yang kusimak dari caramu menjawab pertanyaan. Kemudian aku panjatkan permohonan – permohonan kepada Yang Maha Pemurah dan Maha Pemberi petunjuk, Allah Swt hingga ku beranikan diri untuk melontarkan sebuah tanya padamu ‘sebuah lamaran’.
“Bilakah dalam dirimu terdapat kekurangan dari harapanku dan pikiranku, biarkanlah ia menjadi berkah darimu atasku. Bilakah dalam dirimu terdapat kelebihan dari harapanku dan pikiranku, biarkan ia menjadi Rahmat dan Karunia Allah swt padamu atasku.” Karena niatanku dan telah kuikhlaskan segalanya yang ada padamu.
“Bilakah dalam diriku ada kurang dari harapan dan pikiranmu, pikirkanlah dua kali, tiga kali bahkan berkali-kali sehingga kau ikhlas atasku. Bilakah aku bukan seperti yang kau idamkan dan impikan, pertimbangkanlah berkali-kali karena aku hanyalah hamba yang tak mengenal diriku sebaik Robb Penciptaku mengenalku”. Pikirkanlah dan renungkanlah,…. karena aku tidaklah sempurna.
Ketahuilah niat dan ajakan ini telah kupelihara dari iri, dan ketahuilah sejak niatan ini kutanyakan padamu pandangan mataku lebih terarah dan terjaga. Dan ketahuilah sejak munculnya niatan dan ajakan ini, hati dan pikiranku kembali terisi dan fokus…..apapun jawabmu…………..terima kasih kuucapkan walau tak kuucapkan langsung padamu. Karena selama beberapa saat menanti jawaban darimu aku telah beroleh ketentraman hati hingga bisa menulis ini.
Menjadi hamba yang malu bila harus mati membujang, Allah Azza wa Jalla telah ridha kutanyakan dirimu atasku. Tak kan kaudapati kekuranganku secara sengaja karena pasti akan ku tutupi karena aku adalah pasanganmu, yang kan memuliakan dan melindungimu dari segala hal yang menyakitimu dan itu adalah janjiku padamu.
Darah yang mengalir di tubuh dan di leher tak kan kuhiraukan meski aku jijik dan takut akan kematian, namun Allah Azza wa Jalla telah ridha atas tanyaku…..inilah tulisanku dalam menanti sebuah jawaban….”Barakallahulaka wa baraaka alaika bainakuma fi khair” terucap doa itu dari semua muslim dalam acara walimah…
….
Jangan pula kau biarkan rasa suka yang mendalam mengalahkan kesempatan-kesempatan yang datang padamu.
Kau simpan cinta yang tak pasti di hatimu, dan biarkan cinta lain yang datang pergi meninggalkanmu.
Karena … sekali lagi … cinta saja tak cukup untuk menyalakan lentera di bahtera rumah tanggamu nanti.
Tak pernah kita tahu, apakah dibalik ketidak sempurnaan dalam pandangan mata, tersembunyi keberkahan yang melimpah ruah …

Denyut keberkahan …
Itulah yang mesti kita telisik di dada ketika cinta menyapa …
Ada beda yang akan kau rasa, tentang dia …
Beda itu akan menguatkan azzammu …
Menjagamu tetap dalam logika keimanan ketika menilai harta dan rupa …

Janji Allah itu pasti, karenanya niatkan keberkahan hadir di setiap keputusan hidupmu, termasuk keputusan menemani seseorang dalam jalan juang menuju pertemuan indah dengan-Nya.
Allahuma yasiru wa laa tu’asiru
Sebuah tulisan seorang akhi yang aku sisipkan kembali ke dalam tulisanku dengan versiku atas penantiannya yang serupa denganku saat ini….
“Ya Allah, jadikanlah aku ridho terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan barokah apa-apa yang telah Engkau takdirkan, sehingga tidak ingin aku menyegerakan apa-apa yang engkau tunda dan menunda apa-apa yang Engkau segerakan”.

Jumat, 25 November 2011

Semua bermakna semua berarti

Pernahkah kita berfikir untuk menjadi hal yang utama
dalam peran hidup yang kita jalani
ingin menjadikan kehadiran kita sebagai suatu yang penting
atau bisa dikatakan orang yang slalu update,eksis dll

Oh..tidak kawan,Hilangkan dan buang jauh2 berfikir seperti itu
karna itu hanya menjadikan kita pecundang yg ingin dihargai
tapi kadang kita sendiri tak pernah merasa org lain itu sesuatu yg berharga
ingin dibutuhkan tapi kita merasa tidak membutuhkan mereka
cobalah bercermin dari sudut yg berbeda

ketika kita menyadari bahwa didunia ini tak ada yang sempurna
semua saling membutuhkan karna semua bermakna
semua saling melengkapi karna semua berarti
jika mereka berfikir bahwa kita ini sangat berarti
maka,berfikirlah bahwa mereka pun sangat berarti

coba sejenak kita melihat pribadi panglima perang islam yg tak terkalahkan ini
ya.. Kholid Bin Walid Ra namanya
panglima perang yg disegani oleh lawan dan kawan
panglima perang yang sangat dibanggakan oleh Rasulullah dan Abu Bakar
namun,itu semua berakhir ditangan kepemimpinan Umar Bin Khatab Ra
ketika Kholid menjadi sosok yang diagung2 kan oleh prajurinya

pernah suatu ketika beliau ditanya "Hi..Kholid karnamulah Islam bisa seperti ini"
namun Kholid berkata "bukan.. tapi karna islamlah aku bisa seperti ini"
lalu ditanya lagi oleh salah 1 sahabatnya "apakah kamu masih mau berperang setelah engkau tidak lagi menjadi panglima perang ini"
Kholid tersenyum dan berkata "Aku berjuang karna Allah bukan karna umar"
adalkah panglima perang yang lebih mulia dari dia?

dan ingatkah kita akan pidato Abu Bakar Ra ketika diangkat menjadi Kholifah pertama?
dengan rendah hati beliau berkata "Wahai Tuan2.. Aku bukanlah yang terbaik diantara Tuan2,maka dari itu bantuah aku.. barang siapa yang melihatku telah berbuat salah maka tegurlah aku, dan barangsiapa yang melihatku dalam kebenaran maka bantulah aku, yang kuat diantara kalian akan menjadi lemah dihadapanku karna keadilan allah sehingga mereka tidak lagi berbuat aniaya terhadap orang lain, dan yang lemah akan menjadi kuat dihadapanku karna keadilan allah sehingga hak2nya telah terpenuhi, Insya Allah"
inilah 2 kisah diantara contoh tauladan yang ada

mereka tak pernah berfikir bahwa mereka lebih berarti dibandingkan yang lain
semua berarti meskipun tak pernah terlihat
semua bermakna meskipun tak memiliki makna yang besar
jangan pernah meremehkan dan merendahkan sesuatu yang kecil

Mobil mewahpun tak berarti tanpa sebuah pentil
Istana yang megah tak terlihat indah tanpa pelayan2 kecil yang membersihkannya
hilangkan egomu,lupakanlah baju2mu
jika kau fikir baju adalah kehormatanmu,maka ia akan cepat usang dan sobek
jika kau fikir dirimu adalah kehormatanmu,maka ia akan kekal selamanya

seseorang tak menjadi rendah karna berlaku bersahaja
seseorang tidak menjadi mulia karna kesombongannya
seseorang tidak menjadi besar karna mengucilkan orang lain
seseorang tidak menjadi kecil karna menghargai yang kecil

jadilah manusia yang besar bukan manusia besar berjiwa kerdil
jadilah manusia yang mulia bukan manusia mulia bermuka penjilat
jadilah manusia terhormat bukan manusia yang gila hormat
tersenyumlah maka dunia akan tersenyum kepadamu

Rabu, 09 November 2011

Palestina

kelabu merupakan warna bumi dan langitmu
kemulyaan adalah jati dirimu
perjuangan merupakan urat nadimu
keimanan adalah hidupmu...

kini kau terluka..demi masa depan islam yang mulia
kini kau tercabik-cabik..hanya untuk mempertahankan sang kholik
dan kini kau berdarah..sebagai mahar tuk memasuki janah
dan kini kau dirongrong..karna mereka takut melihat ketegaran imanmu itu yang bagaikan karang

kau telah melahirkan anak-anak Qurani...
kau menciptakan rahim-rahim ibu yang pemberani..
karna kau universitas para nabi..

kau memang miskin tapi dunia barat menganggapmu kaya
kaya akan keimananmu...
kau memang kecil tapi Allah lah yang membesarkanmu dihadapan kaum kafir..
kau terlihat lemah tapi kau cukup kuat untuk seukuran mereka para penyembah setan..

kami iri kepadamu yang tak bisa menyaingi imanmu
ku lihat kau sudah mengangkat senjata??
sedangkan kami baru belajar arti jihad
ku lihat kau sudah mengenalkan islam pada dunia??
sedangkan kami baru mengenalkan islam pada keluarga
ku lihat kau telah sumbangkan ribuan para syuhada??
sedangkan kami baru mencita-citakannya

kau adalah janji para nabi...
kau telah tunaikan sabda nabi...
karena kau adalah harapan kami...
dan karna kau palestina yang dicintai...

Inilah Cinta

Inilah Cinta... Cintanya seorang Rasul kepada ummatnya
ketika kematian datang menghampirinya
yang hanya di ucapkan adalah kalimat ummati..ummati..ummati..

Inilah Cinta...Cintanya seorang Abu Bakar Assydiq RA
ketika saudagar kaya meninfaqan seluruh hartanya
dan hanya membekali Allah & Rasulnya untuk keluarganya

Inilah Cinta...Cintanya duta islam pertama Mushab Bin Umair RA
ketika pemuda ganteng keturunan bangsawan yang meninggalkan kemewahan dunianya
dan yg tersisa hanya selembar kain pendek tuk menutupi jasadnya yang telah gugur
namun hanya mampu menutupi kepalanya saja dan kakinya hanya ditutupi oleh dedaunan

Inilah Cinta...Cintanya Seorang Bilal Bin Rabbah RA
ketika tubuhnya diletakan batu besar di trik matahari yang membakar
yang di ucapkan hanya Ahad..Ahad..Ahad..
kata2 yang dujadikan yel2 perang badar dan membuat kecut kaum kuffar

Dan sungguh inilah Cinta..Cintanya singa Allah Ummar BIn Khatab RA
ketika dunia berada dalam genggamannya
namun Ia hanya memiliki 1 buah baju dengan 80 tambalan
dan rela memikul beberapa karung gandum untuk diberikan fakir miskin dan memasakannya pula

Inilah cinta...

Kala ruh, darah, dan jasad ini Adalah bukti cinta para pecinta sejati

Layaknya jantung yang terkoyak milik Hamzah Bin Abdul Mutthalib

Tubuh yang tercabik berpuluh pedang milik Anas Bin Abi Nadr di perang uhud

Hingga tiada terkenali kecuali dari jarinya yang tersisa

Inilah cinta...

Kala maal, jiwa dan raga Adalah saksi cinta tak terbantahkan

Inilah cinta Kala tetesan peluh, tetesan darah, degupan jantung Menoreh sejarah sepanjang masa


Demi Allah sungguh inilah Cinta..

Cintanya para Sahabat yang tidak ada sebelum dan sesudahnya
sebuah cinta Abadi nan suci
cinta yang mengantarkan kesyurga



maka,masuklah kedalam golongan cinta hamba-hambaku
dan masuklah kedalam Syurgaku (Al Fajr: 29-30)

Berat Terasa Amanah Ini

suatu malam yang hening dan sepi
ku termenung dalam kegelisahan dan ketakutan
mata ini sungguh sulit tuk dipejamkan
akan ketakutanku dengan sebuah pertanyaan2
entah siapa yang bertanya...

pertanyaan yang selalu mengikuti ku disetiap malam..
yah..malam ini pertanyaan itupun datang kembali

bagaimana mungkin aku mendapatkan syurga-Nya,,
sedangkan aku sendiri tidak mengetahui kuncinya?
bagaimana mungkin aku tahan dengan siksa neraka-Nya,,
sedangkan musibah yang sekarang kualami saja cukup menderita kurasakan??

bagaimana caranya agar aku bisa menangis dalam sujudku
sedangkan makna yang kubaca saja aku tidak mengerti??
bagaimana mungkin Allah sebagai cintaku yang pertama
sedangkan aku sendiri tidak mengenal-Nya??

bagaimana mungkin aku rindu akan kehadiran Rasul SAW itu
sedangkan aku sendiri tidak mengetahui sejarah kehidupannya??
bagaimana mungkin aku mau memperjuangkan islam dengan hidupku
sedangkan Aku sendiri tidak tahu ajaran2 islam itu sendiri??

bagaimana mungkin aku ini tidak memiliiki dosa2 yang besar
sedangkan aku sendiri tidak tahu dosa itu apa saja dan seperti apa??
aku tahu aku pasti akan mati
tapi kenapa aku tidak pernah mempersiapkan kematian itu?
akupun tahu dunia ini pasti meninggalkanku
tapi kenapa aku trus membanting tulang untuk menumpuknya??

Ya Allah,,sungguh aku telah membaca ayat tentang amanat yang engkau tujukan kepadaku??
Ya Allah,,bagaimana mungkin aku sanggup memikul amanah ini??
sedangkan gunung,langit,bumi dan lautan pun tak sanggup tuk memikulnya??
Ya Allah,,apa yang harus aku lakukan??
yang aku tahu sekarang ini hanya memohon kepadamu tuk memberikan kasih sayang-Mu kepadaku

sungguh perjalanan hidup ini dan perjalanan menuju Kerhidoan-Mu sangat melelahkanku
sekiranya bukan karna kuasa-Mu,,sungguh aku tidak tahu bagaimana akhir kehidupanku

aku takut..
aku lelah..
aku marah..
aku terluka..
aku benci..
karna kelemahan dan kebodohanku yang tidak mengetahui hakikat penciptaan-Mu atas Ku
ku harap dengan kekuatan dan kuasamu serta ilmu-Mu Engkau mau membimbingku..

Menggenggam Bara

jika merah kan kugenggam
sebagai saksi dlm derita

jika putih kan ku lepas
sebagai akibat kelalaian

sanggupkah diri ini tergadaikan
oleh cerita sang pujangga kebenaran

mengabaikan semua perih
menghalau semua jerit
menghibah semua semu
melawan semua jemu
mengais semua keluh

semua berwarna merah
merah bara yang merekah
seperti panasnya mekkah

hanya untuk diri NYA
hanya untuk NYA
dan untuk semuanya

yang ada diatas sana
yang ada dialam sana
dan yang ada disana

Adik Kecil

Adik kecil..
kenapa kau bermain2 dg batu itu
permainan apakah yg kau mainkan
kau berlari2,bersembunyi dg sahabat2mu..

Adik kecil...
bisakah kau ajarkan kk tuk bermain dg batu itu
bersamamu,bersma teman2ku..
kau sangat bersemangat tak kenal lelah

Adik kecil...
Aku lihat kau berlumuran darah
dan kau anggap sebagai darah suci
sebuah darah merah penuh amarah
darah pengorbanan,darah kehormatan,dan darah harga diri

Wahai Adik kecil
rasa takut seakan pergi bersama lemparan batumu
rasa lelalh seolah mencair bersama tetesan darahmu
rasa lapar tergantikan dengan semangat juangmu

Anak kecil..
ajarkan aku tuk melupakan rasa itu
bom2 mortir kau anggap sbg kewajaran
dentuman peluru kau jadikan permainan
ayah ibumukah yg mengajari itu semua
melawan tiran berjiwa binatang

wahai adik kecil
malam2mu hanya beralaskan tikar usang
kecil,tipis bagaikan kulit bawang
selimutmi berhiaskan bintang2
keheningan sulit diharapkan

Wahai adik kecil...
ijinkan kk bermalam bersamamu
shalat tahajud bersama teman2mu
bercerita,berdoa,becanda dan tertawa
berangkulan dlm cinta seorg kaka

wahai adik kecil...
aku ingin bersama dlm langkahmu
pengobar semangat mengusir manusia binatang
bergotong royong mengangkatmu yg tumbang
jadikan kaka sbg sahabat juang..

Wahai Anak kecil..
barkan aku mengusap airmatamu
mengobati luka2mu
menyuapi makananmu
layaknya seorg ayah kepada anaknya..

Adik kecil..
maafkan kaka,sahabat dan ayahmu
blm bisa terbang kenegrimu
tuk melindungi sayap2mu
hanya doa yg terlimpah untukmu

wahai adik kecil..
aku tak tau siapa yg beruntung diantara kita
kau mungkin iri dgku berada dinegeri yg damai
kau hanya mengetahui hakikat lahirku saja
hidup dlm damai,tenang dan sejahtera
apakah kau tahu hakikat terdalamku
kegoncangan,kebimbangan akan hadir disisimu

Adik kecil..
Aku takut dg imanku
dg ilmu dan amalku
yg tak berarti dg titisan darahmu

wahai adik kecil..
Bersabarlah tuk mendapatjkan keridhaan Allah
bersyukurlah dgn karunia Allah
kau terlahir dinegeri pejuang
hidup sbg pejuang
mati sbg syuhada
syurga sbg buah pengorbanan

Mana Bukti Persaudaraaanmu

Ingin kusampaikan kerinduan yang terus menderu dan memburu akan nilai persaudaraan ukhuwah islamiyah.
Kerinduanku sungguh tak terperi menunggu manusia pilihan yang mampu mengikat jiwa yang bergetar mendambakan persatuan umat, ittihadul ummah.
Kerinduanku terus mengetuk diri yang dahaganya belum terpuaskan untuk mereguk dan menebar benih cinta di antara kita. Jiwaku bagaikan tersayat setiap saat melihat kehidupan.
Akhlak dan nilai persaudaraan telah menjadi arsip kuno yang kusam, bahkan tak segan diremas dan dicampakkan. Wajah-wajah welas asih telah berubah mewujudkan dirinya dalam amarah dan keserakahan

Memang, sesekali kudengar nyanyian merdu tentang kesederhanaan dan persaudaraan, tetapi berulang kali kusaksikan orang-orang yang jiwanya terpenjara, terperangkap dalam perburuan kemewahan seraya menebar racun perseteruan. Ukuran persaudaraan adalah kekayaan, sedangkan akhlaqul karimah telah tersingkir bagaikan batu penghalang mencapai keberhasilan. Ingin kusampaikan kepadamu bila persaudaraan memanggilmu, ikutilah dengan rasa rindu. Walau dalam perjalanan harus melintasi batu-batu duka yang membuta jiwa, didera deru derita sekalipun! Karena rintihanmu yang penuh duka akan berujung pada kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Bila persaudaraan memelukmu, pasrahkan dirimu kepadanya walau engkau tak mendapatkan harta dan pujian. Bagaikan lilin, kaku tebarkan cahaya, walau tubuhnya hancur tak berbentuk. Persaudaraan sejati bagaikan kaum Anshar yang rela mendahulukan kebahagiaan bagi saudaranya, kaum Muhajirin. Karena bagi perindu Illahi, bukan dunia tempat pemberhentiannya. Bagi pencari cinta, justru dalam persaudaraan itu ia dapatkan wewangiannya.
Bagaikan lebah yang berjumpa dengan bunga merekah. Mereka saling memberi. Lebah yang rendah hati tak akan mematahkan ranting yang dihinggapinya. Sang bunga rela melepaskan putik sarinya karena dengan memberi, ia akan menunggu ranumnya bebuahan. Sang lebah membalasnya dengan madu yang menambah hidup semakin berwarna.
Belajarlah dari mereka tentang makna persaudaraan.
Cinta sejati bukanlah ingin mengambil, tetapi bahagia berbagi dan memberi. Bila kau berhitung mengambil keuntungan dari persaudaraanmu engkau sedang berdagang dengan menampakkan wajah yang memelas dan sapaan yang sopan. Sebuah kepura-puraan yang sejati. Bila tak diperoleh keuntungan dari pertemuan itu, kau palingkan mukamu dan kau anggap pertemuanmu itu sia-sia. Jiwamu sungguh dangkal dan kering. Menganggap persaudaraan sebagai komoditas, barang dagangan!
Tidak! Persaudaraan sejati tidak dapat diukur dengan seberapa banyak kau mendapatkan, tetapi berapa banyak engkau memberikan! 
Kemudian, kulihat mesjid-mesjid dibangun saling berdekatan. Kusaksikan pada pemuda yang mukhlis menjajakan kotak-kotak derma untuk membangun rumah Tuhan, tetapi dengan hati yang pedih, kusaksikan mesjid yang kehilangan ruh. Bagaikan kuburan cina, indah dan mahal bangunannya, luas tanahnya, tetapi sepi dan mencengkam ketika malam hari mendekapinya. Di rumah Tuhan, tidak kudapatkan lagi kehangatan akhlaq, manisnya persaudaraan dan membaranya api jihad.
Syukurlah di hari Jum’at, rumah Tuhan sesak pengunjungnya, tetapi sekedar gerak kompak dalam shalat, sabar menahan kantuk dibelai khotbah. Setelah bubar dan masing-masing diantara kita kembali menjadi orang-orang asing, tak lagi peduli siapa jamaah disebelahnya. Padahal diantara mereka ada sepenggal hati yang guncang. Ada perut yang perih menahan lapar. Ada yang terpenjara dalam belitan utang. Kita belum berjamaah. Bagaikan kerumunan manusia menyaksikan kecelakaan. Mereka saling berkomentar, tetapi masing-masing larut mencekam bahkan enggan bertegur sapa, apalagi membelah jiwa mendengar rintihan saudaranya.
Saat ini kulihat rumah-rumah Tuhan hanyalah terminal tempat kita asyik sendiri melepaskan lelah batin, tanpa memberi ruang untuk tegur sapa dan merendanya dalam cinta persaudaraan. Di rumah Tuhan, tidak ada lagi orang yang kehilangan saudaranya, tidak ada tanya kemanakah gerangan si fulan? Memang suara adzan bersahutan dari menara ke menara, tak lupa dilengkapi loudspeaker paling mutakhir, tetapi hanya mampu mengumpulkan jumlah bilangan manusia, tak mampu mengikat hati mereka.

(diambil dari ringkasan  mukaddimah sebuah buku BROTHERHOOD karya KH.toto Tasmara